Ketua Muda kamar Tata Usaha Negara (TUN) Mahkamah Agung Republik Indonesia Prof. Dr. Supandi, SH, M.Hum.

Jakarta, Aktual.com – Kunci sukses menjadi Hakim Agung ternyata tak sekedar mahfum perihal hukum. Melainkan ditopang juga kemampuan lain, untuk kesuksesan menapaki dunia hukum. Setidaknya ini yang tergambar dari kisah hidup Prof. Dr. Supandi, SH, M.Hum, Ketua Muda kamar Tata Usaha Negara (TUN) Mahkamah Agung Republik Indonesia.

Supandi, dalam buku ‘Bocah Kebon Dari Deli’ dikisahkan tentang masa kecilnya sejak memasuki dunia Sekolah Rakyat, digembleng oleh kegiatan Pramuka. Dulu Namanya masih disebut ‘Kepanduan.’ Di Saentis, Sumatera Utara, wilayah perkebunan, disitulah Supandi menghabiskan masa kecilnya.

Ada lapangan yang cukup luas, yang sejatinya dulu menjadi sentral kegiatan masyarakat perkebunan di Saentis. Karena wilayah itu dikenal sebagai sentral perkebunan tembakau sejak masa Hindia Belanda. Di lapangan itulah, acapkali saban petang berlangsung kegiatan Pramuka. Mulai dari api unggun, baris berbaris, hingga perkemahan. Supandi yang sejak kecil telah melihat kegiatan itu, tertaut hatinya untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Tapi siapa sangka, dari mengikuti kegiatan Pramuka sejak kecil, ternyata berdampak besar pada jalan hidup Supandi. Seperti dikisahkan dalam buku ‘Bocah Kebon Dari Deli’, yang terbit bulan Agustus 2021 lalu, perjalanan Supandi dalam karirnya banyak terbantu kala mengikuti kegiatan Pramuka.

Menariknya, kisah kali pertama Supandi menjejaki Pramuka pun tergambar apik dan menarik. Ini petikan bagaimana perjalanan Supandi hingga terpincut dan menyatu pada kegiatan Pramuka.

Upacara 17 Agustus 1958.

Ini ketika perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1958. Saya masih duduk di bangku kelas 1 SR. Ini tahun pertama di sekolah. Hari ini agak berbeda dari hari biasanya. Tak ada kegiatan belajar mengajar.

Sehari sebelumnya guru di sekolah sudah memerintahkan agar kita membawa tongkat kayu dari rumah. Tentu itu bukan hal sulit. Karena kayu banyak tersedia di pinggiran rumah dan masih banyak juga di hutan. Saya pun sepulang sekolah sudah menyiapkannya. Dengan kawan-kawan, kami semua sibuk membuat tongkat kayu. Demi persiapan besok di bawa ke sekolah.

Esok paginya, kami ke sekolah dengan kayu masing-masing di tangan. Sampai di sekolah, kayu itu ditempeli kertas berwarna merah dan putih. Ternyata kayu itu digunakan sebagai tiang bendera. Kami pun disuruh baris berbaris. Berjejer di lapangan sekolah. Lalu di ajak berkeliling menuju lapangan yang lebih besar, di luar sekolah. Lapangan Saentis itu.

Kami berjalan berbaris dari sekolah. Saya senang sekali. Tapi cuaca memang agak panas terik. Ada beberapa kawan saya yang sempat terjatuh, agak tak tahan terkena teriknya panas mentari. Syukur alhamdulillah saya bisa melewatinya. Karena kami bocah kebon yang biasa angon kambing dan sapi di hutan, menghadapi terik mentari memang sudah barang biasa.

Sambil berbaris, disitulah saya mulai diajarkan untuk cinta pada tanah air. Cinta pada nusa dan bangsa. Upacara bendera 17 Agustus dilakukan. Saya senang sekali mengikuti acara itu. Karena memang darah pejuang sudah mengalir di tubuh saya, dari ayah dan ibu dan bahkan dari kakek dan kakek buyut saya. Mereka semuanya memang pejuang kemerdekaan, yang ikut berperang melawan kolonialis Belanda. Dari kakek dan nenek saya juga semuanya ikut berjuang melawan kolonialisme.

Inilah yang mungkin membawa semangat saya sebagai anak bangsa yang bisa senang menikmati suasana upacara bendera itu. Kegiatan upacara bendera itu juga yang membawa saya makin asyik mengikuti kegiatan Pramuka. Sentral kegiatan Pramuka ya dilakukan di lapangan Saentis yang besar tersebut. Makanya tanah di Saentis itu kita pertahankan sebisa mungkin untuk kegiatan kepramukaan sampai sekarang.

Penggalang

Masa SMP, saya tetap melanjutkan mengikuti kegiatan Pramuka. Saya merasakan para pembimbing benar-benar yang sangat menjiwai Pramuka. Bukan karena kewajiban sekolah atau ada unsur paksaan apapun, melainkan benar-benar sangat menjiwai sekali. Pramuka telah menjadi darah daging. Karena para pembimbing mengajarkan tentang tatacara menekuni kegiatan pramuka dengan sungguh-sungguh.

Ini yang membuat saya makin tertarik untuk melakukan hal yang sama. Makanya kita pun mengabdikan diri untuk terus mempelajari dan mengamalkan ajaran dari Pramuka. Ternyata memang dikemudian hari hasil yang didapatkan dari mengikuti kegiatan dan aktivitas kepramukaan itu, nyatanya sangat berguna sekali untuk saya.

Ketika memasuki masa SMP, saya pun naik tingkat. Menjadi tingkat ‘penggalang.’ Di tingkat penggalang ini keterampilan yang diajari juga makin meningkat. Misalnya kemampuan untuk mengukur tinggi pohon ataupun tingginya gunung.

Ini cukup dilakukan dengan menarik tali dari bawah, lalu menggunakan ilmu matematika yang diajari dari sekolah, maka akan di dapat berapa ketinggian pohon atau gunung itu. Begitulah salah satu keterampilan yang kita dapatkan. Saya merasakan bahwa hal itu sangat luar biasa sekali.

Bukan itu saja. Termasuk bagaimana mengetahui arah mata angin. Pramuka mengajari tekniknya untuk mengetahui dengan cepat posisi barat, timur, selatan atau utara tanpa menggunakan kompas. Bahkan hal ini bisa dilakukan ketika di tengah hutan sekalipun. Dengan cukup hanya melihat arah aliran sungai, kita bisa mengetahui mana posisi barat dan timur. Ilmu ini juga diajari di Pramuka.

Dan menariknya lagi, setiap Sabtu pagi, setiap pekannya, kita selalu berkumpul. Sesama anak Pramuka, biasanya kita saling komunikasi. Tapi kadang menggunakan bahasa pluit dengan kode morse atau lainnya. Jadi kadang ada yang membunyikan pluit, tit…titit….titit…., itu pertanda bahasa yang bisa kita terjemahkan. Jadi komando untuk saling berkumpul menggunakan kode morse.

Orang lain yang tidak mengikuti Pramuka, tak memahaminya. Jadi kita sudah mempraktekkan langsung bagaimana kegiatan kepramukaan itu setiap hari.

Terkadang juga kita melakukan kegiatan diluar wilayah. Melakukan perkemahan di daerah Sibolangit atau Berastagi misalnya. Untuk transportasi ke sana, tak jarang kita mendapat pinjaman mobil truk dari pihak perkebunan. Maka kita pun melaksanakan perkemahan ke arah Bukit Barisan dan lainnya.

Kita menuju wilayah yang jauh dari kampung, memasuki hutan. Begitu sampai di sana, kita langsung mencari dimana sumber mata air. Tentu yang berdekatan dengan sungai atau semacamnya. Begitu turun dari truk, setelah lokasi di dapat, maka kita langsung membagi tugas.

Adayang mendirikan tenda, ada yang mencari makanan dengan merambah hutan mencari sayur-sayuran seadanya seperti genjer, ikan dan lainnya. Ada pula yang mempersiapkan memasak. Itu pun tidak menggunakan alat seperti di dapur rumah. Melainkan menggunakan tali, priuknya digantung, lalu membuat api di bawahnya. Inilah bentuk latihan kemandarian yang diajarkan dari Pramuka.

Jadi jika kita ditinggal di tengah hutan, kita bisa hidup mandiri. Jadi sangat banyak sekali pengetahuan yang didapat dari Pramuka, tidak didapatkan dari sekolah. Ini sangat berguna sekali untuk keperluan kehidupan sehari-hari. bagi saya, ini sangat berguna dalam menjalankan tugas dan pekerjaan saya dikemudian hari.

Penegak

Ini ketika saya memasuki STM Negeri 2 Medan. Jadi dimanapun saya belajar, saya tetap mengikuti kegiatan Pramuka. Terkadang kita juga berinteraksi dengan gugus depan Pramuka dari wilayah lain. Misalnya dari Belawan, dari angkatan Udara dan lainnya. Ini menunjukkan saling interaksi yang baik antar Gugus depan Pramuka. Jadi gugus depan Pramuka di Saentis sudah dikenal juga di wilayah Sumatera Utara.

Dari mengikuti kegiatan Pramuka ini, banyak sekali nilai tambah yang didapat. Hal itu antara lain misalnya, bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa, cinta tanah air, setia kawan, jujur, pantang menyerah dan lainnya. Ini yang sangat terasa sekali bagi saya.

Kebetulan ayah saya juga sering memberikan penugasan. Tapi saya tidak langsung menyerah sebelum dicoba. Dan semangat pantang menyerah itu makin dipertajam ketika mengikuti kegiatan Pramuka. “Jangan katakan menyerah sebelum dicoba,” ini prinsip yang saya dapat dari Pramuka.

Dan, lapangan Saentis itulah yang sangat membantu sekali bagi kelangsungan kegiatan Pramuka tersebut. Lapangan itu sangat berjasa besar bagi saya menimba ilmu dari kegiatan Pramuka. Ini tak bisa dilupakan begitu saja. Ketika saya telah menapaki sebagai Hakim maupun Hakim Agung, saya bertekad agar di lapangan itu tetap berlangsung kegiatan aktif kepramukaan.

Mengingat jasa besar Lapangan Saentis itulah, kami kemudian mendirikan Yayasan di sana. Namanya Yayasan Gugus Depan Sembilan Dua Enam. Ini nama Gugus Depan Kepramukaan. Kemudian kita buatkan badan hukum yayasan agar lebih valid. Kebetulan lapangan Saentis itu masuk dalam lahan Hak Guna Bangunan (HGB) milik PTP IX yang dulunya hasil nasionalisasi dari perusahaan perkebunan Hindia Belanda.

Kami pun mengajukan kepada pihak PTP IX untuk penggunaan tanah lapangan tersebut demi kegiatan kepramukaan. Karena faktanya memang banyak juga masyarakat lain yang menggunakan lahan eks PTP IX yang dijadikan properti dan lainnya. Dan ternyata hal itu bisa terjadi.

Maka dari itu kami hanya mengajukan agar lapangan Saentis itu juga bisa digunakan untuk kegiataan Pramuka. Tentu ini hanya pembelajaran bagi generasi muda dan anak-anak agar terus bisa aktif dalam kegiatan Pramuka. Namun uniknya, pengajuan untuk penggunaan lahan itu malah mengalami prosedur yang berbelit dan sulit sekali.

Mulanya kami mengajukan pinjam pakai lahan atas tersebut, tapi tak juga kunjung mendapat jawaban. Kemudian kami mengajukan untuk hibah, tapi juga tak ada jawaban. Karena tak kunjung juga mendapat jawaban, saya sempat mengajukan untuk membeli lahan tersebut. Eh, tetap juga tak mendapatkan jawaban dari pihak PTP. Padahal itu hanya untuk digunakan bagi kepentingan masyarakat di sana, untuk membangun sekolah dan kegiatan-kegiatan kepramukaan dan lain sebagainya.

Karena tak kunjung mendapat jawaban dari pihak PTP, ternyata Tuhan memberikan jalan. Saya sempat bertemu dengan Deputi Kementerian BUMN di Jakarta. Saya ceritakan tentang bagaimana situasi yang kami alami selaku anak perkebunan, dan saya mempertanyakan bagaimana kebijakan pemerintah terhadap budidaya masyarakat.

“Mengapa kebijakan negara tidak berpihak kepada rakyatnya?” Waktu itu saya kebetulan tengah diundang untuk penyuluhan hukum di BUMN.

Alhasil langsung ditinjau oleh pihak Kementerian BUMN atas permintaan lahan tersebut. Syukur alhamdulillah langsung disetujui oleh Menteri BUMN. Dan suratnya langsung ditandatangani, untuk pinjam pakai lahan tersebut.

Dan Presiden Komisaris BUMN ikut menandatangani surat perjanjian pinjam pakai lahan itu. dan Direktur BUMN diperintahkan untuk membuat perjanjian dengan Yayasan terkait pinjam pakai lahan itu.

Namun setelah itu pun, perjanjian yang telah disepakati secara lisan itu juga tidak kunjung dibuat. Saya pun agak bingung. Padahal ini sudah dibicarakan sebelumnya. Alhasil saya sempat menghubungi lagi Deputi BUMN itu mempertanyakan tindak lanjut dari hasil keputusan yang terakhir dibuat.

Lalu dia mempertanyakan lagi tentang tindaklanjutnya kepada pihak perkebunan. Dia beralasan bahwa ketua Yayasan tengah sakit. Padahal dia tidak sakit. Maka kemudian langsung ditindaklanjuti surat perjanjian pinjam pakai lahan tersebut. Ini

Padahal kami hanya bermaksud untuk membangun lembaga pendidikan dan keterampilan untuk anak-anak Saentis. Membangun SMK dan sekolah Kejuruan. Tujuannya agar setelah lulus sekolah, tidak perlu melamar pekerjaan kemana-mana. Tidak perlu menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri. Melainkan bisa berdaya guna menghasilkan produksi yang bisa bermanfaat buat keperluan masyarakat.

Jadi masyarakat dan anak muda Saentis tidak putus harapan dengan berharap hanya menjadi pekerja. Melainkan bisa mandiri dan berusaha. Itulah maksud dan tujuan yang sebenarnya. Dari sinilah kami berharap agar pemerintah juga bisa proaktif atas swakelola masyarakat atas lahan-lahan yang masih bisa produktif.

(Arie Saputra)