Paris, aktual.com – Wakil Menteri Pertahanan Prancis Alice Rufo menegaskan bahwa aliansi militer NATO tidak dirancang untuk menjalankan operasi di Selat Hormuz. Pernyataan ini disampaikan di tengah kritik Amerika Serikat terhadap sikap Prancis terkait konflik Iran.
Dalam forum yang digelar media Le Point pada Rabu (1/4) waktu setempat, Rufo menyampaikan bahwa keterlibatan militer di kawasan tersebut berpotensi melanggar prinsip hukum internasional.
“Izinkan saya mengingatkan apa itu NATO: ini adalah aliansi militer yang berkaitan dengan keamanan wilayah, di kawasan Euro-Atlantik,” tegas Rufo dalam forum tersebut.
Ia menambahkan bahwa pemerintah Prancis tidak mendukung langkah Amerika Serikat untuk membentuk koalisi guna membuka kembali Selat Hormuz yang saat ini terdampak konflik.
Selat Hormuz sendiri dilaporkan tidak beroperasi normal selama beberapa pekan akibat eskalasi perang yang dipicu serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Situasi ini turut memicu krisis energi global dengan lonjakan harga minyak dan gas.
Rufo menjelaskan bahwa Prancis lebih memilih pendekatan non-militer dalam memulihkan jalur pelayaran internasional.
“untuk berupaya memulihkan arus dan kebebasan navigasi maritim, dan melakukannya melalui cara-cara non-ofensif”.
Meski demikian, ia mengakui adanya ketegangan dengan Amerika Serikat terkait kondisi tersebut.
Lebih lanjut, Rufo menegaskan bahwa prinsip Pasal 5 NATO berlandaskan pada pertahanan kolektif, bukan aksi sepihak oleh satu negara.
“Ini bukan satu negara melindungi negara lainnya, ini kolektif. Ini disebut sebagai pertahanan kolektif, dan pencegahan juga kolektif.”
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga soliditas aliansi dengan tetap fokus pada tujuan utama dan menghindari perpecahan internal.
Rufo menambahkan bahwa Eropa perlu meningkatkan peran dalam menjaga pertahanannya sendiri sebagai bagian dari tanggung jawab dalam aliansi Atlantik.
“Ini bukan hanya pesan Prancis hari ini,”
“Yang kita inginkan adalah memajukan pertahanan Eropa dalam aliansi Atlantik. Ini menciptakan keandalan dan kepercayaan — dan kepercayaan lebih kuat,”
Menurutnya, kepercayaan dalam aliansi hanya dapat terbangun apabila setiap pihak memiliki kesiapan untuk mempertahankan dirinya sendiri, khususnya negara-negara Eropa.
Artikel ini ditulis oleh:
Rizky Zulkarnain

















