Jakarta, Aktual.co — Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik Agus Jabo Priyono menilai peran mayoritas negara-negara peserta Konferensi Asia Afrika tahun 1955 dalam konstelasi global semakin merosot.
Menurutnya, dengan bubarnya Uni Sovyet dan berakhirnya perang dingin, Bandung Spirit sebagai suatu gerakan yang kemudian mengkristal dalam Gerakan Non Blok (1961) semakin tersisih.
“Semangat KAA (Bandung Spirit) makin ditinggalkan. Banyak di antara pemimpin-pemimpin negara berkembang (Selatan) menjadi abdi yang setia bagi kapitalisme global dan gagal menjadi agen perubahan sebagaimana semangat KAA 1955,” ujar Agus Jabo kepada wartawan di Jakarta, Senin (20/4).
Agus menuturkan negara-negara di Asia-Afrika yang mayoritas negara berkembang jatuh dalam perangkap imperialism/neo-kolonialisme, politik perang minyak, serta perdagangan bebas.
“Cengkeraman Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya makin hegemonik ditandai pula dengan cengkeraman kapitalisme global dengan berbagai instrumennya baik melalui lembaga keuangan maupun organisasi perdagangan dunia,” katanya
Sebagai pengecualian, perkembangan di Amerika Latin memberi angin segar dengan bangkitnya semangat berdaulat, menolak dikte negara-negara yang lebih maju.
Disaat yang sama, lanjutnya, rakyat di negeri-negeri maju (developed country) atau jantung kapitalisme global juga mulai tercerahkan, dan bersikap kritis kepada pemerintahnya.
“Makanya tak heran, peristiwa demonstrasi besar-besaran antiglobalisasi terjadi dalam berbagai forum ekonomi dunia, seperti pada pertemuan WTO di Seattle (November 1999), pertemuan G-8 di Montreal (November 2000), Genoa (Juli 2008), penyelenggaraan forum tandingan World Social Forum, dan lain sebagainya,” bebernya
Agus mengatakan dalam demonstrasi tersebut, mereka menyuarakan tuntutan tatanan dunia baru yang lebih baik.
“Slogan ‘Another World is Possible’, ‘Globalise Resistance’, ‘Global Justice’, ‘Fair Trade not Free Trade’ menyebar seperti wabah,” tambahnya

Artikel ini ditulis oleh: