Jakarta, aktual.com – Direktur PT Cipta Anugerah Indotama (CAI) Ryantori Angka Rahardja diduga mengerahkan sejumlah preman ke kediaman pemegang hak paten Konstruksi Sarang Laba-Laba (KSLL) di daerah Bambu Apus, Jakarta Timur.

Warga sekitar Nita membenarkan perihal tersebut. “Rame, Rabu (11/3), banyak preman datang. Mereka dari Jawa Timur,” kata Nita di Jakarta, Selasa (17/3).

Menurut Nita, ada salah satu preman berniat memanjat pagar pintu. Namun, niatnya dibatalkan karena tak lama kemudian aparat kepolisian datang ke lokasi. Bahkan, kata dia, hari ini ada juga tiga orang yang datang, tetapi pergi lagi.

Para preman tersebut dikerahkan karena diduga Ryantori kalah di Pengadilan Negeri Jakarta Timur atas klaim royalti terkait KSLL, hingga akhirnya menempuh jalur preman yang diutus untuk meminta uang royalti ke pemegang hak paten.

Di Pengadilan Negeri Jakarta Timur dengan nomor perkara 221/pdt.6/2019
tanggal 21 Agustus 2019 terkait klaim royalti KSLL, persidangan dihentikan karena waktu agenda pembuktian Ryantori mundur.

Ryantori pun menempuh upaya hukum lainnya seperti gugatan pendaftaran paten yang diajukan di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, tetapi dinyatakan gugur oleh majelis hakim, setelah mangkir dalam tiga kali sidang.

Hakim lantas menggugurkan gugatan Ryantori dan mewajibkannya membayar biaya perkara sekitar Rp 1.516.000.

Selain itu, Ryantori ditetapkan menjadi tersangka oleh Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus (Dirtipideksus) Bareskrim Mabes Polri atas pelanggaran paten KSLL yang terjadi di tiga titik.

Itu terkait pembangunan pondasi gedung IGD RSUD Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Pondasi Gedung SMK Telkom Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, dan Pondasi gedung RSUD Sumenep, Jawa Timur.

Ryantori diduga melakukan pendaftaran ulang KSLL dengan nama baru yakni Jaring Rusuk Beton Pasak Vertikal (JRBPV). Ironisnya, bentuk dan struktur JRBPV masih sama persis dengan KSLL, yang telah terlebih dahulu mendapatkan Hak Paten.

Ryantori yang diduga semakin kesal malah melaporkan Direktur PT Katama Suryabumi Kris Suyanto ke kepolisian tetapi menemui jalan buntu. Berdasarkan data dihimpun, Ryantori melaporkan Kris atas tuduhan menggunakan KSLL tanpa izin di Polres Pasaman Barat (Sumatera Barat), di Polres Tanah Datar (Sumatera Barat) dan Bareskrim.

Namun, semua laporan itu sia-sia. Polres Pasaman Barat mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyelidikan (SP3) pada 21 Mei 2019. Polres Tanah Datar juga demikian, mengeluarkan SP3 pada 21 September 2018, termasuk Bareskrim Polri SP3 laporan pada Kris Suyanto 16 April 2019. (Fadlan Butho)

(Tino Oktaviano)