Jakarta, Aktual.co — Presiden Joko Widodo tak peduli dengan kesedihan rakyat Indonesia, atas penghinaan Malaysia terhadap Indonesia melalui iklan dalam sebuah kotak bertuliskan “Pecat pembantu Indonesia dan ganti dengan robot.”
Sebab, Jokowi menghadiri penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara CEO Proton Holdings, Abdul Harith Abdullah dengan CEO PT Adiperkasa Citra Lestari, AM. Henderopriyono untuk mengembangkan mobil nasional.
“Penandatanganan MoU itu tidak tepat waktu. Saat ini kita sedang tersinggung oleh iklan produk Malaysia yang berjudul “Pecat Pembantu Indonesia!”. Iklan yang rasis, merendahkan dan melukai perasaan rakyat Indonesia. Kalau saya presiden, saya tidak hadiri acara MoU itu jika dilaksanakan sekarang, karena saya mesti mewakili rasa tersinggung rakyat,” kata anggota DPR RI, Elnino M Husein Mohi di Jakarta, Sabtu (7/2).
Juga, kerjasama antara Proton tersebut perlu dikaji ulang, karena Proton bukanlah perusahaan yang memiliki kemampuan dan kalah bersaing dengan perusahaan mobil Jepang dan Korea Selatan.
“Presiden perlu menjelaskan bagaimana bisa dilakukan kerjasama dengan Proton Malaysia yang penjualannya terus merosot, karena kalah bersaing dengan merek asing seperti Jepang dan Korea Selatan. Bahkan di Malaysia sendiri, omsetnya anjlok dari 50 persen menjadi hanya 21 persen. Mengapa kerjasama bukan dengan perusahaan mobil Jepang atau Jerman misalnya,” kata Elnino.
Ditambahkan politisi Gerindra itu, mesti ada penjelasan yang rasional tentang MoU itu.
“Tanpa penjelasan yang masuk akal, maka bukan tidak mungkin ada orang yang membaca kehadiran presiden dalam penandatanganan MoU itu benar-benar hanya sekedar membantu kelancaran bisnis seorang tokoh yang menjadi tim suksesnya, sebagai balas jasa belaka,” pungkas Elnino
Artikel ini ditulis oleh:

















