Medan, aktual.com – Prestige Bilingual School, Medan, resmi memberlakukan pembelajaran jarak jauh berbasis daring atau yang lebih dikenal dengan online learning sejak dua pekan lalu. Hal ini untuk mengikuti kebijakan pemerintah untuk mencegah penularan virus corona di sekolah.

“Guru dan anak didik perlu diajari terlebih dulu agar kegiatan belajar mengajar berjalan lancar. Jangan sampai mereka tidak menguasai teknologinya, karena belum terbiasa, ” ujar Ade Setyawati, S.S., M.Pd., Kepala Sekolah TK-SD Prestige Bilingual School, Selasa(31/3).

Dijelaskannya, berbeda dengan proses belajar mengajar tatap muka dalam kondisi normal, untuk pengajaran secara daring jika belum terbiasa, anak didik dan orang tua akan kesulitan. Hal ini karena kebanyakan sekolah di Tanah Air belum semuanya terbiasa melakukan pembelajaran daring.

“Jadi jangan sampai orang tua dan anak didik jadi direpotkan, karenanya perlu dipersiapkan sebelumnya,” lanjutnya.

Dicontohkannya, Prestige Bilingual School, sebelum memberlakukan online learning, diadakan workshop selama seminggu yang diikuti oleh seluruh guru dan staff.

Hal itu dimaksudkan untuk mempersiapkan bahan ajar, pemilihan media ajar online, serta sosialisasi pembelajaran berbasis daring kepada seluruh civitas akademika dan juga orangtua yang dilakukan melalui aplikasi zoom.

“Misalnya melalui aplikasi zoom untuk pembelajaran tatap muka langsung jarak jauh, ClassDojo untuk kelas daring di mana materi dan asesmen diberikan dan dikumpulkan, dan serta google-form sebagai media pemberian kuis dan pengecekan aktivitas yang dilakukan oleh para siswa setiap harinya,” lanjutnya.

“Untuk hari pertama akan dibutuhkan pembiasaan bagi siswa dan orang tua dalam mengunakan aplikasi dan pasti akan mengalami kesulitan, namun seiring berjalannya waktu siswa bisa melakukan pembelajaran online secara mandiri” kata Elly Adha Yanti, koordinator Pendidikan SD Prestige School.

Namun, agar tidak monoton dengan hanya memberikan tugas yang menumpuk kepada para murid dan membuat orang tua kelimpungan di rumah, para pengajar juga tetap berusaha melakukan pembelajaran tatap muka berbasis daring setiap harinya.

“Pembelajaran bisa dibuat lebih singkat dan fleksibel. Bukan hanya pembelajaran akademik, pembelajaran nilai kehidupan sehari- hari juga bisa menjadi fokus materi yang diajarkan,” tuturnya.

Misalnya, terkait mengonsumsi makanan sehat, berjemur, mengajak murid agar selalu cuci tangan dan menjaga kebersihan, meningkatkan ibadah bersama keluarga di rumah.

“Juga kebersamaan bersama keluarga dengan membantu pekerjaan rumah seperti merapikan tempat tidur, menyapu, menyiram tanaman, dan aktivitas rumah tangga lainnya,” sambungnya.

Guru juga mesti mengecek kabar para murid, mengajak berdoa bersama, melakukan tanya jawab singkat, serta mengingatkan tentang gaya hidup sehat di tengah situasi seperti ini.

“Beri pembelajaran terbaik meski dari rumah” ungkapnya.

(Tino Oktaviano)