Istanbul, Aktual.com – Menyusul penangkapan dan penahanan Wali Kota Istanbul, Ekrem Imamoglu yang akan menjadi pesaing utama Recep Tayyip Erdogan dalam pemilu 2028. Puluhan ribu pendukung Imamoglu menggelar unjuk rasa yang ricuh di Kota Istanbul Turki.

Dilansir dari Euro News, puluhan ribu pengunjuk rasa oposisi Turki menggelar unjuk rasa di luar Balai Kota Istanbul pada Senin malam (24/3) waktu setempat, untuk memprotes penangkapan dan penahanan Imamoglu yang dilakukan pada Rabu (19/3) lalu.

Para demonstran melambaikan bendera dan plakat serta meneriakkan slogan-slogan sementara bentrokan antara pengunjuk rasa dan polisi terjadi. Polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa.Tercatat sudah lebih dari 1.100 orang pengunjuk rasa ditahan.

Imamoglu secara resmi ditangkap oleh pengadilan pada hari Minggu (23/3) dan langsung ditahan atas tuduhan korupsi, yang kemudian memicu protes besar-besaran. Penahanan ini menyusul penahanan sebelumnya minggu lalu, yang memicu gelombang demonstrasi jalanan terbesar di seluruh Turki, yang tidak terlihat dalam lebih dari satu dekade.

Menurut kantor kejaksaan, Imamoglu dituding mengoperasikan organisasi kriminal, menerima suap, melakukan pemerasan, merekam informasi pribadi secara tidak sah, dan mengatur tender. Namun
tuduhan jaksa terkait teror ditolak. Pihak oposisi dan sejumlah pejabat pemerintah menolak tuduhan terhadapnya dan bersikeras bahwa pengadilan Turki beroperasi secara independen.

Sementara itu, dalam pidato yang disiarkan televisi pada hari Senin dan setelah pertemuan Kabinet, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menuduh ketua partai oposisi CHP, Ozgur Ozel, yang menyerukan protes damai, mengganggu ketertiban umum. Ozgur Ozel sendiri adalah ketua Partai Rakyat Republik, atau CHP, tempat Imamoglu bernaung.

Ozel mengulangi seruannya untuk memboikot media, merek, dan toko yang disebutnya pro-Erdogan, seraya menambahkan semua tuduhan terhadap Imamoglu tidak berdasar dan tanpa bukti. ”Siapa pun yang secara tidak adil dijebloskan ke penjara oleh Tayyip Erdogan, alun-alun ini membela mereka, demi demokrasi dan demi Turki,” kata Ozel,

Sedangkan Presiden Erdogan mengecam seruan provokasi yang terus dilontarkan Ozel. ”Saya telah menyampaikan seruan ini beberapa kali sebelumnya, dan hari ini saya mengulanginya: Hentikan ganggu kedamaian warga negara kita dengan provokasi,” kata Erdogan.

Ia juga mengisyaratkan Ozel akan dimintai pertanggungjawaban atas protes tersebut. ”Tentu saja, akan ada akuntabilitas politik atas tindakan ini di parlemen dan akuntabilitas hukum di pengadilan,” ujar Erdogan.

Pemenjaraan Imamoglu secara luas dianggap sebagai langkah politik untuk menyingkirkan pesaing utama yang kemungkinan besar dapat mengalahkan Erdogan dalam pemilihan presiden berikutnya, yang saat ini dijadwalkan pada tahun 2028.

”Jika kalian tidak ada di sini hari ini, jika kalian tidak bergegas ke sini sejak hari pertama, jika kalian menyerah pada gas air mata dan barikade, jika kalian takut dan tetap di rumah, maka hari ini seorang pengurus yang ditunjuk oleh Tayyip Erdogan akan tinggal di sini, di gedung ini,” kata Ozgur Ozel pada Minggu malam (23/3) waktu setempat. Ia juga menunjuk ke balai kota saat ia berbicara kepada kerumunan besar yang meneriakkan slogan-slogan antipemerintah.

Untuk diketahui, Imamoglu bisa dibilang politisi paling terkemuka kedua di Turki setelah Erdogan, menjabat sebagai wali kota ibu kota ekonomi dan budaya berpenduduk 16 juta jiwa di negara tersebut.
Namun Imamoglu yang memilih menjadi pihak oposisi Presiden Erdogan, dan akan menjadi pesaing utama Erdogan dalam Pemilu 2028 nanti justru ditangkap dan ditahan dengan berbagai tuduhan.

Untuk diketahui demonstrasi besar-besaran di berbagai kota-kota di Turki sudah berlangsung enam hari berturut-turut, atau sejak Imamoglu ditangkap. Pemimpin CHP Ozgur Ozel terus menyerukan agar protes nasional terus berlanjut. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 1.133 orang ditangkap dan ditahan akibat menggelar protes, dan sebanyak 123 petugas polisi terluka akibat bentrokan dengan pengunjuk rasa.

Selain itu, sebanyak sembilan jurnalis telah ditangkap dan ditahan. Dikatakan serikat pekerja media Turki, Sembilan jurnalis itu ditangkap dari rumah mereka masing-masing sepanjang hari Senin (23/3).

Serikat pekerja Disk-Basin-Is mengatakan sedikitnya delapan wartawan dan satu jurnalis foto ditangkap polisi dalam apa yang disebutnya sebagai serangan terhadap kebebasan pers dan hak rakyat untuk mengetahui kebenaran. ”Anda tidak dapat menyembunyikan kebenaran dengan membungkam wartawan!” tulis serikat pekerja di platform media sosial X, seraya menyerukan pembebasan mereka segera.

(Indra Bonaparte)

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain