Ilustrasi

Jakarta, Aktual.com- Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengatakan, pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas 100 persen t terbatas akan terus menyesuaikan kondisi pandemi Covid-19 di masing-masing daerah.

“Kita akan terus sesuaikan dengan kondisi, apabila situasi masih terkendali tidak apa 100 persen, tapi daerah-daerah tertentu mungkin akan kita sesuaikan nanti,” kata Ma’ruf di Serang, Kamis (20/1) dipantau melalui videonya.

Ma’ruf menuturkan, meski penyebaran varian Omicron tidak terjadi di semua daerah, pemerintah akan terus mengikuti perkembangan pandemi Covid-19 di Indonesia.

Ia memastikan, pemerintah akan terus menyesuaikan pelaksanan PTM terbatas dengan situasi pandemi, termasuk apabila terjadi lonjakan kasus pada Februari 2022 yang diprediksi sejumlah pihak.

“Semua itu kan sesuai dengan tantangan yang kita hadapi, kalau terjadi meninggi ya tentu kita perketat, kalau sudah turun baru kita longgarkan, termasuk PTM,” ujar Ma’ruf.

Ma’ruf menambahkan, hingga hari ini peraturan terkait pelaksanaan PTM terbatas belum berubah tetapi pemerintah akan menyesuaikan hal itu dengan situasi terkini,

Diberitakan sebelumnya, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengimbau berbagai pihak untuk menahan diri melanjutkan PTM 100 persen di tengah kasus Omiron yang kian meningkat.

Menurut IDI, vaksinasi Covid untuk anak 6-11 tahun baru saja digulirkan pekan kedua Desember, sehingga semua anak baru mendapatkan satu dosis vaksin, bahkan ada yang belum mendapatkan dosis pertama.

Ketua Umum IDAI Piprim Basarah Yanuarso mengatakan, PTM 100 persen pada anak-anak yang belum vaksinasi lengkap, terlebih pada anak-anak kecil yang belum begitu pandai melakukan protokol kesehatan 100 persen, dinilainya sangat mengkhawatirkan.

“Kita sebetulnya sudah senang laporan tiap cabang kasus menurun, situasi ini jika dipaksakan PTM 100 persen tanpa ada opsi lain, tanpa ada orpsi hybrid, selain bikin galau orangtua yang concern terhadap vaksinasi, usia PAUD belum vaksin sudah masuk sekolah, ini sesuatu yang perlu disikapi,” ujarnya dalam diskusi daring IDAI.

(Arie Saputra)