Jakarta, aktual.com – Ketua DPR RI Puan Maharani menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas penghargaan yang diberikan Pemerintah Korea Selatan kepada Pekerja Migran Indonesia (PMI) bernama Sugianto atas aksi kemanusiaannya dalam menyelamatkan warga lanjut usia saat kebakaran hutan melanda wilayah Korea Selatan.
Pernyataan itu disampaikan Puan saat menerima kunjungan Ketua Majelis Nasional Republik Korea, Woo Won-Shik, di Gedung DPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis.
“Yang Mulia, izinkan saya juga menyampaikan apresiasi atas penghargaan yang diberikan Presiden Republik Korea kepada Bapak Sugianto, seorang Warga Negara Indonesia atas aksi kemanusiaannya membantu warga lanjut usia yang terdampak musibah kebakaran hutan di Korea Selatan,” ujar Puan.
Sugianto mendapat penghargaan dari Pemerintah Korea Selatan atas aksi heroiknya menyelamatkan para lansia dari ancaman kebakaran hutan yang melanda permukiman penduduk di Desa Uiseong, Yeongdeok, Provinsi Gyeongsang Utara, pada Maret 2025 lalu. Dalam situasi genting, Sugianto berlari bolak-balik mengevakuasi warga lanjut usia ke tempat yang lebih aman.
Aksi tersebut menuai pujian luas dari masyarakat setempat. Sugianto bahkan disebut sebagai “pahlawan tersembunyi” di tengah krisis kebakaran hutan hebat yang melanda Korea Selatan.
Penghargaan kepada Sugianto diserahkan langsung oleh Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung di Seoul pada Jumat (2/1) lalu. Selain itu, Pemerintah Korea Selatan juga memberikan Visa F-2 kepada Sugianto, yakni visa residensi jangka panjang bagi warga negara asing yang ingin menetap di Korea Selatan.
Visa tersebut memberikan izin tinggal lebih lama dibanding visa pekerja, serta membuka peluang bagi Sugianto untuk memperoleh status penduduk tetap (Visa F-5).
“Tindakan tersebut mencerminkan kepedulian, keberanian, dan semangat gotong royong yang menjadi nilai luhur masyarakat Indonesia dan diapresiasi oleh masyarakat Korea,” imbuh Puan yang merupakan cucu Presiden pertama RI, Soekarno.
Dalam pertemuan bilateral tersebut, Puan dan Woo Won-Shik juga membahas berbagai isu strategis, mulai dari kerja sama ekonomi, geopolitik, hingga penguatan hubungan sosial budaya antara Indonesia dan Korea Selatan.
Puan menyinggung semakin populernya budaya Korea di Indonesia yang menurutnya turut mempererat hubungan antarmasyarakat kedua negara. Ia menilai interaksi budaya menjadi jembatan penting yang memperkuat upaya diplomasi formal antara eksekutif dan legislatif.
“Melalui interaksi budaya, hubungan antarmasyarakat tumbuh secara alami, memperkuat saling pengertian, dan membangun ikatan emosional,” kata Puan.
Ia juga menyoroti kesamaan nilai sosial antara Indonesia dan Korea, seperti semangat gotong royong di Indonesia yang sepadan dengan nilai sangbusangjo di Korea.
“Semangat kerja bersama ‘gotong royong’ di Indonesia dan ‘sangbusangjo’ di Korea merupakan fondasi penting bagi eratnya hubungan antar masyarakat dan kolaborasi lintas komunitas,” tambahnya.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Parlemen Korea Selatan Woo Won-Shik menyatakan rasa haru dan hormatnya atas aksi kepahlawanan Sugianto yang dinilainya mencerminkan nilai kemanusiaan universal.
Selain itu, Puan juga mendorong penguatan kerja sama di bidang pendidikan antara RI dan Korea Selatan, khususnya melalui peningkatan beasiswa dua arah, riset bersama, serta pertukaran dosen dan mahasiswa.
“Kami juga memandang penguatan program bahasa, baik Bahasa Indonesia di Korea maupun Bahasa Korea di Indonesia, sebagai sarana melahirkan duta budaya dan memperluas pemahaman lintas generasi,” tuturnya.
Puan turut mendorong peningkatan peran pemuda, jejaring kreatif, serta kolaborasi lintas komunitas sebagai bagian dari penguatan hubungan bilateral berbasis masyarakat.
“Kami meyakini bahwa pariwisata dan ekonomi kreatif semakin relevan bagi hubungan antar masyarakat kedua negara. Saya yakin kampanye pariwisata bersama dan peningkatan konektivitas akan sangat bermanfaat dalam hal ini,” paparnya.
Usai pertemuan bilateral, Puan mengajak Woo Won-Shik dan rombongan untuk makan siang bersama, dilanjutkan dengan tour building di Gedung DPR RI. Ia menjelaskan bahwa Gedung Kura-Kura dibangun pada 1960-an sebagai bagian dari penyelenggaraan Conference of the New Emerging Forces (CONEFO).
“Gedung ini sebuah gagasan strategis Presiden pertama Indonesia, Presiden Soekarno, yang kebetulan juga adalah kakek saya,” ungkap Puan.
Menurutnya, sejak awal Gedung DPR dirancang sebagai simbol aspirasi negara-negara berkembang agar memiliki peran setara dalam tatanan global.
“Hingga hari ini, semangat tersebut tetap kami jaga dalam pelaksanaan fungsi parlemen dan diplomasi Indonesia,” ujar perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR RI itu.
Di akhir pertemuan, Puan menyampaikan apresiasi atas kunjungan Ketua Parlemen Korea Selatan ke Indonesia.
“Terima kasih atas kunjungan Yang Mulia ke DPR RI, dan atas dialog yang hangat dan produktif pada hari ini. Gamsahabnida!” tutup Puan.
Artikel ini ditulis oleh:
Tino Oktaviano

















