Gunung Agung

Karangasem, Aktual.com – Gunung Agung masih menunjukkan aktivitas yang tinggi. Belum ada tanda-tanda penurunan aktivitas dari gunung setinggi 3.142 mdpl. Berdasarkan informasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Gunung Agung kini telah mengeluarkan asap putih dari kawah. Asap tersebut berintensitas tinggi hingga tipis dengan ketinggian 50-200 meter dari kawah Gunung Agung.

Keluarnya asap ini membuat PVMBG mengeluarkan Volcano Observatory Notice for Aviation (VONA) berwarna oranye. VONA tersebut sebagai rekomendasi untuk pesawat-pesawat untuk terbang menjauhi area Gunung Agung. “Ya, kita sudah mengeluarkan rekomendasi soal VONA itu. Berwarna oranye,” kata Kepala Bidang Mitigasi Gunung Agung PVMBG,‎ I Gede Suantika‎, Minggu (1/10).

Berdasarkan VONA tersebut, asap putih teramati setinggi 100 meter dari kawah dan mengarah ke barat mengikuti angin. Tidak teramati adanya material vulkanik selain asap tersebut.

Suantika ‎menjelaskan, hingga kini aktivitas Gunung Agung dari sisi kegempaan masih tinggi. Menurutnya, ada perbedaan mendasar antara Gunung Agung dan Gunung Kelud. “Gunung Kelud itu sistemnya terbuka. Dia sering meletus. Tahun 2007 dia meletus. Tahun 2014 dia meletus lagi. Dia tujuh tahunan meletus,” kata Suantika‎.

Sementara Gunung Agung kali terakhir meletus tahun 1963. Sudah 54 tahun silam Gunung Agung tertidur lelap. “Jadi dia sistemnya tertutup. Bodi Gunung Agung penuh. Pipa magmanya kuat sekali, karena sudah membeku,” papar Suantika.

Hanya saja, hingga kini magma di perut Gunung Agung terus memanas dan mendesak ke permukaan.

‎”Tapi magmanya terus memanas dan mendesak ke atas. Proses pemanasannya kita tidak tahu sampai kapan, tergantung gempanya. Kalau kegempaanya terus, maka dia terus mendesak ke atas,” terang dia.

Suantika tak menampik proses pemanasan magma saat ini bisa saja membuat Gunung Agung tertidur lagi. ‎”Kemungkinan tertidur lagi kalau dia energinya sudah habis, panasnya sudah habis, membeku dia. Tidak jadi meletus. Beberapa tahun kemudian prosesnya dari awal lagi, dipanasin lagi. Apakah ada indikasi ke arah pembekuan? Belum, ini kan masih awal sekali,” katanya.

“Untuk bisa membuat lobang, menerobos lagi butuh tenaga banyak. Sekarang memang gempanya menurun sedikit. Nah, penurunan ini apa? Apakah ini titik kritis? Kalau titik kritis, tambah sedikit energi saja mendesak sudah jebol, erupsi dia,” tambah Suantika.
Laporan Bobby Andalan, Bali

Artikel ini ditulis oleh: