Jakarta, Aktual.co — Meski selalu mengklaim mampu menghemat sebesar USD22 juta, unit usaha PT Pertamina (Persero) yakni Integrated Supply Chain (ISC) dituding masih belum terbukti menghasilkan efisiensi pasca fungsi pengadaan yang semula diemban Petral dialihkan ke unit usaha yang dipimpin Daniel Purba itu.
“Komponen harga jual BBM itu kan ada harga beli (pengadana), plus harga penyimpanan, plus pajak (PPN dan PBBKB), plus margin kepada Pertamina. Nah, komponen paling besar kan pengadaan, harusnya kalau ada penghematan dalam segi pengadaan, harusnya ada penurunan harga jual BBM ke masyarakat,” kata pengamat kebijakan energi Yusri Yusman kepada Aktual di Jakarta, Senin (25/5).
Ia berpendapat bahwa rakyat menunggu untuk merasakan dampak dari efisiensi yang diumbar-umbar Pertamina.”Rakyat menunggu ujungnya itu BBM murah. Kalau tidak, berarti ini hanya angka di atas kertas. Buktikan dong dengan memberi dampak kepada masyarakat,” kata Yusri.
Sebelumnya, hal senada juga diutarakan oleh ketua Komisi VII DPR RI Kardaya Warnika. Menurutnya, tolak ukur untuk menilai efektif atau tidaknya upaya membubarkan Petral adalah turunnya harga bahan bakar minyak (BBM).
“Ya ujung-ujungnya bagi rakyat itu, wah itu dibubarin begini, mafia begini, mafia itu kita dari dulu cerita mafia juga kan kita enggak tau. Bagi rakyat itu yang penting, oh iya harga BBM turun berkat itu. Itu jelas dirasakan. Tetapi kalau dengan dibubarkan, nggak ada dampaknya terhadap harga BBM, terhadap biaya pengadaan BBM, jadi buat apa. Artinya kan ada tujuan loh,” ungkap Kardaya.
Klaim Pertamina atas penghematan sebesar USD22 juta berkat pengadaan melalui ISC pun dinilai Kardaya sebagai ungkapan yang tanpa bukti nyata.
“Efisiensi itu artinya kan biayanya lebih murah kan, kalau biayanya lebih murah berarti jualnya lebih murah dong. Sekarang kamu misalnya, ada pengadaan atau beli barang murah, kan jualnya lebih murah. Kalau pengadaannya lebih murah lalu jualnya nggak turun apa-apaan ini,” tegasnya.
Artikel ini ditulis oleh:

















