Maulana Syarif Sidi Syaikh Dr. Yusri Rusydi Sayid Jabr Al Hasani saat menggelar Ta’lim, Dzikir dan Ihya Nisfu Sya’ban (menghidupkan Nisfu Say’ban) di Ma’had ar Raudhatu Ihsan wa Zawiyah Qadiriyah Syadziliyah Zawiyah Arraudhah Ihsan Foundation Jl. Tebet Barat VIII No. 50 Jakarta Selatan, Jumat (19/4/2019). AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, aktual.com – Maulana Syekh Yusri Rusydi Sayyid Jabr al-Hasani menjelaskan, bahwa baginda Nabi SAW adalah mengetahui sesuatu yang ghaib, sebagai salah satu bentuk mu’jizatnya, lebih dari apa yang Allah berikan kepada Nabi Isa AS, yaitu mengetahui apa yang telah dimakan dan disimpan oleh kaumnya di rumah-rumah mereka.

Diantara hal ini adalah apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bahwa seorang sahabat yang bernama Hatib bin Abi Balt’ah RA, telah melakukan pengkhianatan kepada baginda Nabi, dengan membocorkan informasi peperangan yang telah baginda rencanakan kepada kafir Quraisy di Mekah.

Dirinya melakukan hal ini bukan karena dirinya keluar dari islam, akan tetapi bertujuan agar orang kafir disana merasa memiliki hutang budi kepada dirinya, sehingga keluarganya yang ketika itu masih berada di Mekkah tidak mereka sakiti. Dan juga dirinya yakin, bahwa Rasulullah adalah pasti menang, karena Allah selalu bersamanya.

Melalui seorang perempuan, dirinya menitipkan surat kepada kafir Quraisy yang berisikan informasi tersebut dengan sembunyi-sembunyi. Lalu perempuan tersebutpun berjalan menuju ke Mekkah dengan ontanya. Baginda Nabi SAW tahu akan hal ini atas wahyu Allah, sehingga mengutuskan kepada Ali bin Abi Thalib dan dua sahabat lainnya untuk mengejar perempuan tersebut, hingga akhirnya mendapatinya di tempat yang sangat jauh dari Madinah.

Hali ini menunjukkan, bahwa Rasulullah mengetahui sesuatu yang ghaib atas seizin Allah Ta’ala, bukan dengan sendirinya, sebagaimana Allah berfirman:

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا إِلا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ

“Allah adalah Dzat yang Maha mengetahui sesuatu yang ghaib dan tidak menampakkannya (memberitahukannya) kepada seseorang, kecuali kepada seseorang yang telah Allah ridhai dari seorang Rasul (utusan-Nya),” (QS. Al Jin 26,27).

Hal ini menjadikan para sahabah semakin bertambah keimanannya, sehingga mereka tidak memiliki alasan sama sekali untuk mengingkari apalagi keluar dari agamanya.

Wallahu A’lam.

(Rizky Zulkarnain)