Semarang, Aktual.com —  Sekitar 350 seniman rakyat berasal dari beberapa desa di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, hingga saat ini terus melakukan berbagai persiapan untuk mementaskan sendratari ‘Kidung Karmawibangga’ di Taman Lumbini, kompleks Candi Borobudur, pertengahan April 2016.

“Pementasannya saat pembukaan kegiatan selama 1,5 bulan ‘Ruwat-Rawat Borobudur’ tahun ini, mulai pertengahan bulan ini,” demikian kata Ketua Komunitas Warung Info Jagad Cleguk Borobudur (Penyelenggara Ruwat-Rawat Borobudur), Sucoro, kepada pewarta, di Borobudur, Sabtu (02/04).

Sendratari ‘Kidung Karmawibangga’ bersumber dari relief di dinding paling bawah Candi Borobudur yang juga warisan budaya dunia tersebut. Relief Karmawibangga di candi tersebut meliputi 160 panel dengan isi cerita yang dikenal luas sebagai nasihat atau ajaran kepada manusia tentang hukum sebab dan akibat.

Ia mengatakan, mereka yang memainkan sendratari tersebut berasal dari 12 kelompok kesenian rakyat di beberapa desa di Kabupaten Magelang.

Sejak empat bulan terakhir, katanya, beberapa kelompok tersebut mempelajari kisah tentang karmawibangga untuk kemudian menuangkan dalam karya yang berupa sendratari tersebut. Komunitas WIJC Borobudur sejak 2013 merintis kisah karmawibangga menjadi karya seni berupa sendratari tersebut.

Ia mengatakan lakon sendratari berdurasi sekitar 45 menit tersebut, “Prahara Bumi Sambhara Budhara”. Sucoro menjadi penulis cerita atau naskah lakon tersebut.

Sucoro yang juga Penanggung Jawab Panitia Ruwat-Rawat Borobudur 2016 itu, menjelaskan tentang makna atas lakon sendratari itu yang terkait erat dengan tiga dimensi Candi Borobudur saat ini, yakni menyangkut kepentingan kepariwisataan, religi, dan pelestarian warisan cagar budaya.

“Ketiganya saling ‘berbenturan’. Padahal semua dibingkai oleh karma. Siapa menanam kebaikan ataupun keburukan, akan memetik hasilnya. Akan tetapi, karma sering tidak disadari manusia. Manusia perlu hidup harmonis,” ujarnya.

Tema besar Ruwat-Rawat Borobudur selama 18 April hingga 1 Juni 2016, adalah “Harmonisasi Kehidupan”. Agenda seni dan budaya tersebut telah dilakukan Komunitas Warung Info Jagad Cleguk Borobudur setiap tahun, sejak 2003.

Ia mengatakan setiap kelompok kesenian rakyat yang terlibat dalam pementasan itu, mendapatkan kebebasan untuk menafsirkan kisah tersebut yang kemudian mengolahnya dalam bentuk tarian tradisional mereka.

Sejumlah tarian tradisional yang menjadi sarana mereka mementaskan ‘Kidung Karmawibangga’, antara lain kuda lumping, soreng, topeng ireng, dan grasak.

Rangkaian agenda seni budaya Ruwat-Rawat Borobudur 2016, antara lain berupa pentas kesenian tradisional, ritual tradisi, Festival Kesenian Rakyat Borobudur, jelajah pusaka, dialog dan seminar budaya, lokakarya seni, budaya, dan pariwisata, “sonjo” (kunjungan) desa, dan kirab budaya.

()