Petugas menggunakan sepeda memeriksa Kilang RU (Unit Pengolahan) V Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis (14/4). Melalui program "Refinery Deveploment Master Plan", Pertamina akan meningkatkan kapasitas Kilang RU V dari 260 MBSD (ribu barel per hari) menjadi 360 MBSD. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/16.

Jakarta, Aktual.com — Walaupun Indonesia sudah mengalami defisit minyak yang cukup lama, namun perencanaan pembangunan kilang berjalan dengan sangat lambat

Berdasarkan keterangan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas), I Gusti Nyoman Wiratmadja perkembangan rencana pembangunan kilang minyak di Tuban baru hanya sebatas proses finalisasi patner.

“Pembangunan kilang di Tuban dalam proses finalisasi partner Pertamina juga sedang finalisasi diskusi dengan partnernya yang potensial istilahnya sedang market sounding,” jelasnya di Jakarta, Selasa (26/4).

Untuk saat ini Pertamina telah memiliki patner dari negara Arab Saudi, Kuwait, China, Rusia, dan Jepang. Dalam pembangunan kilang ini Pertamina mendapat insentif dari Pemerintah berupa lahan lokasi pembangunan kilang.

Perlu diketahui bahwa kebutuhan minyak nasional per hari yakni sebesar 1,5 – 1,6 juta barrel. Sedangkan dengan 11 kilang yang ada hanya mampu memenuhi 800.000 – 900.000 barel per hari.

Dari 11 kilang tersebut, ada lima kilang minyak yang berkapasitas besar, yaitu kilang minyak Cilacap, kilang minyak Dumai, kilang minyak Plaju, kilang minyak Balongan dan kilang minyak Balikpapan, yang hanya mampu berproduksi sampai 700.000 barel.

Maka dari itu, untuk memenuhi kebutuhan minyak nasional diperlukan penambahan kilang baru. Untuk sementara ini, upaya menutupi kekurangan permintaan konsumen dilakukan melalui impor.

(Dadangsah Dapunta)

(Eka)