Ilustrasi Kawasan Hutan Lindung

Jakarta, Aktual.com — Chief Executive Officer Standard Chartered Indonesia Dony Donosepoetro, menyatakan Indonesia menguasai sekitar 15% potensi solusi pasar karbon dunia dalam forum OJK Institute Economic Outlook 2026, Kamis (19/2/2026). Ia menilai besarnya potensi tersebut dapat menjadi sumber investasi baru sekaligus motor ekspor nasional di tengah ketidakpastian global.

“Indonesia has the largest potential of KCPA solution carbon market, 15% di dunia, dan saya rasa ini bisa menjadi salah satu bentuk investasi, penarik investasi baru, dan bahkan menjadi komoditas ekspor unggulan kita,” ujar Dony.

Pasar karbon, kata dia, merupakan bagian dari kekuatan ekonomi hijau Indonesia yang sangat besar, tidak hanya terbatas pada transisi energi terbarukan. Ia meyakini, dengan tata kelola yang kredibel, pasar karbon bisa bertransformasi menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru di luar komoditas tradisional.

Dalam kesempatan itu, Dony juga mengingatkan bahwa percepatan pertumbuhan ekonomi nasional sangat bergantung pada kualitas implementasi kebijakan. “Kunci utamanya, jika kita ingin membuat lompatan momentum pertumbuhan yang jauh lebih progresif dari 5 persen, memang adalah efektivitas eksekusi kebijakan,” katanya.

Selain menjadi instrumen investasi, pasar karbon juga dinilai relevan dengan meningkatnya risiko perubahan iklim yang kini semakin nyata. Risiko iklim, lanjut Dony, bukan lagi isu jangka panjang, melainkan ancaman nyata yang perlu direspons melalui kebijakan adaptasi dan mitigasi yang konkret.

“Climate risk is becoming more evident, dan ini clear and present danger,” tutur Dony, seraya menjelaskan bahwa adaptasi terhadap risiko iklim kini menjadi kebutuhan mendesak.

Ia menambahkan, daya tarik Indonesia di mata investor global sebenarnya cukup kuat berkat sumber daya alam, skala ekonomi, dan bonus demografi. Dengan kepastian dan konsistensi kebijakan, potensi 15% pasar karbon dunia tersebut dinilai dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama ekonomi hijau sekaligus mesin ekspor baru nasional.

(Nur Aida Nasution)

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi