Jakarta, Aktual.co —  Mantan Menteri Perekonomian Rizal Ramli mengatakan bahwa rencana pemerintah Jokowi-Jk untuk menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dianggap hanya berdampak kecil terhadap defisit transaksi berjalan.

“Ada cara lebih cerdas dari sekadar menaikkan harga BBM,” tegas Rizal Ramli di Jakarta, Rabu (5/11).

Dirinya mengungkapkan bahwa ada sejumlah pertanyaan penting yang harus dijawab oleh Presiden Jokowi dan tim ekonomi di Kabinet Kerja sebelum memutuskan kenaikan harga BBM. Misalnya, mengapa di saat harga minyak mentah dunia turun dari 110 dolar AS per barel menjadi 80 dolar AS per barrel, pemerintah kemudian berencana menaikkan BBM dalam Negeri.

“Apakah adil menaikkan BBM, tetapi tidak berani memberantas mafia migas yang merugikan negara puluhan trilliun rupiah. Di masa kampanye lalu, Jokowi kerap mengatakan akan memberantas segala macam mafia, termasuk mafia migas,” tambahnya.

Lebih lanjut dikatakan apakah adil menaikkan harga BBM tetapi tidak bisa menekan biaya cost recovery yang merugikan negara lebih dari Rp60 trilliun.

“Pemerintah tak mampu tekan cost recovery sementara negara membayar subsidi bunga obligasi BLBI Rp60 trilliun per tahun kepada pemilik bank hingga 20 tahun mendatang,” ungkapnya.

Dirinya menyarankan kepada Pemerintahan Jokowi JK agar membangun fasilitas yang dapat mengurangi biaya produksi BBM dan menyediakan Lapangan Pekerjaan.

(Eka)