Jakarta, Aktual.com — Direktur Head of Investment Banking PT Semesta Indovest Sekuritas, Kerry Rusli menyebut arah pasar keuangan domestik masih dipengaruhi perang dan sentimen global. Hal itu disampaikannya saat rupiah bergerak di kisaran Rp17.000 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Jumat pagi (10/4/2026).

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah sempat dibuka menguat ke level Rp17.065 per dolar AS. Namun, mata uang Garuda kemudian berbalik melemah ke Rp17.110 per dolar AS dan sempat menyentuh Rp17.115 per dolar AS secara intraday.

Menurut Kerry, faktor eksternal masih menjadi perhatian utama pelaku pasar dalam membaca pergerakan rupiah maupun pasar saham domestik. “Dari kacamata saya, pergerakan nilai tukar dolar AS ini salah satunya dipengaruhi oleh faktor perang,” ujarnya saat ditemui Aktual.com di Main Hall, Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta.

Perkembangan politik dan ekonomi global, tuturnya, masih terus dipantau karena memengaruhi arah pergerakan pasar, termasuk minat investor. Selama ketidakpastian eksternal belum mereda, rupiah dinilai masih berpeluang bergerak di sekitar level saat ini.

Lebih lanjut, Kerry memandang penyelesaian konflik geopolitik dapat mendorong koreksi dolar Amerika Serikat dan membuka ruang penguatan bagi rupiah. Atas dasar itu, investor disebut masih menunggu perkembangan global sebelum meningkatkan eksposur risiko di pasar domestik.

Di tengah tekanan tersebut, minat investor ritel terhadap saham perdana disebut masih terlihat. Pelaku pasar menilai respons terhadap saham yang baru tercatat di Bursa Efek Indonesia masih cukup terjaga.

Meski demikian, ia mengingatkan kondisi pasar belum sepenuhnya kuat karena nilai dan volume transaksi masih menurun secara year to date. Keadaan itu membuat pihaknya lebih berhati-hati dalam menilai perusahaan yang layak masuk ke bursa.

Ia juga menegaskan tidak ingin memaksakan target pencatatan saham baru di tengah pasar yang belum stabil. “Jika memang belum layak, kami sarankan untuk berkembang di luar bursa terlebih dahulu,” tutur Kerry.

Selain mencermati nilai tukar, Kerry menilai tekanan biaya pada sektor tertentu belum tentu berdampak sama bagi seluruh emiten karena masing-masing memiliki strategi untuk menjaga pendapatan dan margin. Ia pun menyampaikan pasar kini menantikan hasil tinjauan MSCI pada Mei, dengan harapan Indonesia tetap bertahan dalam kelompok emerging market.

(Nur Aida Nasution)

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi