Jakarta, Aktual.com – Bank Indonesia (BI) mempertebal intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah yang nyaris menyentuh level Rp17.000 per dolar AS di tengah pembalikan arah pasar global.
Gubernur BI Perry Warjiyo, mengatakan tekanan terhadap rupiah dipicu meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat konflik di Timur Tengah yang mendorong penguatan dolar AS dan memicu arus keluar modal dari negara berkembang.
Pada perdagangan hari ini, rupiah sempat menguat 29 poin atau sekitar 0,17 persen ke level Rp16.968 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp16.997 per dolar AS. Namun, pergerakannya masih terbatas dalam rentang Rp16.968 hingga Rp17.006 per dolar AS.
“Nilai tukar rupiah pada 16 Maret 2026 tercatat sebesar Rp16.985 per dolar AS, melemah 1,29 persen point to point dibandingkan dengan level akhir Februari 2026, sejalan dengan pelemahan mata uang negara non-dolar AS,” ujar Perry dalam konferensi pers RDG, Selasa (17/3/2026).
Tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari memburuknya kondisi pasar keuangan global, terutama akibat kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury dan pergeseran aliran dana ke aset safe haven. Kondisi ini memperkuat dolar AS sekaligus menekan mata uang negara berkembang.
Merespons situasi tersebut, BI meningkatkan intensitas intervensi di pasar valas, baik di pasar domestik maupun offshore. Instrumen yang digunakan mencakup transaksi non-deliverable forward (NDF), pasar spot, serta domestic non-deliverable forward (DNDF) guna meredam volatilitas.
“Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, Bank Indonesia terus meningkatkan intensitas intervensi, baik di pasar NDF luar negeri, pasar spot, maupun DNDF di pasar dalam negeri,” kata Perry.
Selain intervensi, kebijakan moneter juga dioptimalkan untuk menarik aliran modal asing dan menjaga likuiditas pasar keuangan. Langkah ini diarahkan untuk memperkuat ketahanan eksternal di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Dari sisi global, konflik Timur Tengah sejak akhir Februari 2026 turut memperburuk prospek ekonomi dunia melalui lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok.
“Pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 diperkirakan melambat menjadi 3,1 persen dari sebelumnya 3,2 persen, meskipun terdapat penurunan tarif resiprokal Amerika Serikat,” tutur Perry.
Di tengah tekanan tersebut, BI mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen guna menjaga stabilitas nilai tukar serta inflasi dalam kisaran 2,5±1 persen.
Bank sentral juga meyakini stabilitas rupiah tetap terjaga ke depan, didukung oleh cadangan devisa sebesar 151,9 miliar dolar AS serta prospek ekonomi domestik yang masih solid.
(Nur Aida Nasution)
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi

















