Jakarta, Aktual.com — Permata Bank melalui Permata Institute for Economic Research (PIER) memproyeksikan nilai tukar rupiah pada akhir 2026 berada di kisaran Rp16.700–Rp16.800 per dolar Amerika Serikat di tengah tekanan global yang masih berlanjut. Lembaga riset tersebut juga memperkirakan defisit fiskal tahun depan tetap terkendali di sekitar 2,93 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Proyeksi itu disampaikan dalam Media Briefing PIER Economic Review, Jumat (20/2/2026), yang memotret tantangan ekonomi 2026. Dalam waktu yang sama, Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi di tengah volatilitas eksternal.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan faktor global masih menjadi sumber tekanan utama bagi rupiah, terutama dari sentimen pasar dan dinamika kebijakan moneter negara maju.
“Nilai tukar rupiah akan cenderung relatif stabil di akhir tahun ini di kisaran 16.700 hingga 16.800, meskipun memang dalam jangka pendek tetap ada tekanan dari faktor global dan sentimen pasar,” ucap Josua dalam Media Briefing, Jumat (20/2/2026).
Ia menjelaskan dampak perang dagang mulai terlihat pada kinerja ekspor Indonesia ke Amerika Serikat. Setelah sempat mengalami percepatan pada semester pertama 2025, ekspor mulai kembali normal pada paruh kedua tahun tersebut.
“Artinya, efek dari tarif resiprokal itu sudah mulai take in place dan full impact-nya akan mulai terindikasi pada tahun ini, sehingga ini yang harus kita antisipasi,” lanjut ekonom tersebut.
Selain perang dagang, Permata Institute mencermati divergensi arah suku bunga bank sentral global yang berpotensi meningkatkan volatilitas arus modal ke negara berkembang. Perbedaan kebijakan antara The Fed, Bank Sentral Eropa, dan Bank Sentral Jepang dinilai berpotensi memicu fluktuasi arus modal ke negara berkembang, termasuk nilai tukar.
Lembaga tersebut juga menyoroti perlambatan ekonomi Tiongkok sebagai risiko jangka menengah, mengingat peran negara tersebut sebagai mitra dagang utama Indonesia. Kondisi ini dapat berdampak pada ekspor komoditas dan arus investasi apabila pelemahan berlangsung lebih dalam.
Dari sisi domestik, stimulus fiskal masih dipandang sebagai penopang pertumbuhan meskipun ruang kebijakan relatif terbatas.
“Strategi menghadapi 2026 ini juga menuntut balancing antara bagaimana menjaga pertumbuhan dan tetap memastikan stabilitas makroekonomi,” tuturnya.
Josua menambahkan fundamental ekonomi Indonesia sejatinya masih cukup baik, meskipun persepsi pasar sempat terpengaruh sentimen eksternal dan penilaian lembaga internasional. Permata Institute menilai konsistensi kebijakan fiskal dan moneter menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan investor serta menopang stabilitas rupiah hingga akhir 2026.
(Nur Aida Nasution)
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi

















