Jakarta, Aktual.co — Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta bergerak melemah sebesar 19 poin menjadi Rp12.949 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp12.930 per dolar AS.
“Laju rupiah di akhir sesi berbalik negatif setelah mengalami apresiasi pada sesi pagi tadi. Belum adanya kepastian mengenai waktu kenaikan suku bunga AS menjadi salah satu faktornya,” kata Analis PT Platon Niaga Berjangka Lukman Leong di Jakarta, Kamis (30/4).
Ia menambahkan bahwa sebagian pelaku pasar menanggapi keyakinan the Fed bahwa perekonomian AS akan berjalan baik ke depannya seiring dengan akan adanya perbaikan data-data ekonomi pada kuartal II mendatang. Dengan begitu, peluang kenaikan suku bunga acuan Fed pada tahun ini masih terbuka.
Kendati demikian, lanjut dia, sebagian investor pasar uang lainnya meyakini bahwa kenaikan suku bunga Fed tidak dalam waktu dekat, situasi itu menahan pelemahan rupiah lebih dalam.
Di sisi lain, ia menambahkan bahwa Bank Indonesia juga masih melakukan intervensi pasar valas di dalam negeri agar fluktuasi mata uang rupiah tidak terlalu lebar.
Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada menambahkan adanya ekspektasi konsumsi domestik pada triwulan I 2015 akan meningkat juga menjadi salah satu faktor mata uang rupiah masih berada di bawah level Rp13.000 per dolar AS.
Selain itu, ia menambahkan bahwa munculnya ekspektasi pengeluaran pemerintah yang meningkat pada kuartal II tahun ini diharapkan menjadi stimulus pertumbuhan ekonomi Indonesia secara jangka panjang sehingga menopang rupiah.
Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Kamis (30/4) ini tercatat mata uang rupiah bergerak menguat menjadi Rp12.937 dibandingkan hari sebelumnya, Rabu (29/4) di posisi Rp12.964 per dolar AS.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka

















