Jakarta, Aktual.co — Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta bergerak melemah sebesar 41 poin menjadi Rp12.842 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp12.801 per dolar AS.
Pelemahan ini merupakan efek dari kondisi di pasar global yakni terkait masalah utang Yunani. Sepanjang belum adanya kejelasan terkait utang Yunani, pelaku pasar uang cenderung menempatkan asetnya dalam mata uang dolar AS. Dan kondisi tersebut menekan rupiah tertekan cukup dalam.
“Pasca tersiar kabar kemungkinan gagalnya kesepakatan Yunani dengan para kreditor memicu pelemahan atas Euro, meskipun pertemuan tersebut direncanakan kembali diadakan pada Senin depan,” ujar Kepala Riset dari Woori Korindo Securities Indonesia (WKSI), Reza Priyambada.
Lebih lanjut Reza mengatakan jika faktor internal tidak terlalu mendominasi pengaruh pelemahan tersebut. Sebelumnya, jumat (13/2) pagi tadi, Reza memprediksikan Rupiah berada di bawah target level support 12.710, yakni Rp12.815-12.790 (kurs tengah BI). Menurutnya, Semakin tertutupnya awan positif bagi Rupiah membuat potensi kenaikan Rupiah menjadi lebih berkurang.
“Rupiah pun kian tergilas dengan penguatan laju Dolar AS. Tetap mewaspadai potensi pelemahan lanjutan,” pungkasnya.
Sementara itu, indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia dibuka naik 20,57 poin atau 0,38 persen menjadi 5.363,98, sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 bergerak menguat 6,66 poin (0,72 persen) menjadi 935,59.
Head of Research Valbury Asia Securities Alfiansyah di Jakata, Jumat mengatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina menjadi sentimen positif bagi pasar saham AS dan Eropa tadi malam, situasi itu menjadi katalis positif bagi indeks bursa Asia termasuk IHSG BEI.
“Membaiknya pasar global mendukung pergerakan IHSG pada perdagangan saham hari ini untuk melaju ke area positif di tengah masalah utang Yunani yang belum menemukan titik temu,” kata Alfiansyah.
Menurut dia, ke depannya pasar masih dibayangi oleh kecemasan terhadap keputusan yang dilakukan oleh pemerintah Yunani berkenaan dengan dana talangan mengenai masalah utangnya, potensi tekanan bagi pasar masih besar seiring belum ada kejelasan mengenai kesepakatan antara Yunani dan Troika yang terdiri atas Bank Sentral Eropa (ECB), Komisi Eropa (EC) dan Dana Moneter Internasional (IMF).
Analis Asjaya Indosurya Securities, William Suryawijaya menambahkan masih mengalirnya dana asing ke pasar saham domestik menggambarkan bahwa keyakinan investor terhadap kondisi dan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih cukup baik.
“IHSG dalam jangka pendek masih berada dalam tren penguatan, diperkirakan IHSG BEI pada akhirpekan ini bergerak di kisaran 5.282-5.389 poin,” kata William.
Sementara itu dalam data BEI per 12 Februari 2015 tercatat, pelaku pasar asing mencatatkan beli bersih sebesar Rp4,875 triliun. Bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng menguat 147,76 poin (0,61 persen) ke 24.569,91, indeks Bursa Nikkei turun 63,77 poin (0,36 persen) ke 17.915,23, dan Straits Times menguat 0,59 poin (0,06 persen) ke posisi 3.418,51.
Artikel ini ditulis oleh:














