Gubernur BI, Perry Warjiyo
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memberikan keterangan pers hasil Rapat Dewan Gubernur tambahan di kantor pusat BI, Jakarta, Rabu (30/5). Bank Indonesia memutuskan kembali menaikkan suku bunga acuan BI 7-days repo rate 25 basis poin menjadi 4,75 persen untuk mengantisipasi risiko eksternal terutama kenaikan suku bunga acuan kedua The Fed pada 13 Juni mendatang. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/aww/18.

Jakarta, Aktual.com – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memutuskan kembali mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Januari 2026. Kebijakan tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran yang ditetapkan.

“Keputusan ini konsisten dengan fokus kebijakan saat ini, yaitu mendukung pencapaian sasaran inflasi 2026–2027 dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Perry dalam konferensi pers secara virtual, Rabu (21/1/2026).

Penahanan suku bunga ini menjadi yang keempat secara beruntun sejak September 2025 dan merupakan level terendah sejak 2022. Meski demikian, otoritas moneter menilai ruang penyesuaian suku bunga masih terbuka dengan tetap memperhatikan dinamika global serta stabilitas pasar keuangan.

Dari sisi eksternal, tekanan terhadap perekonomian global masih kuat seiring penguatan dolar Amerika Serikat dan tingginya imbal hasil US Treasury. Kondisi tersebut mendorong pergeseran portofolio investor global ke aset aman dan memicu arus keluar modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Bank Indonesia mencatat hingga 19 Januari 2026 terjadi aliran keluar modal portofolio asing sebesar US$1,6 miliar. Sejalan dengan itu, nilai tukar rupiah pada 20 Januari 2026 melemah ke level Rp16.945 per dolar AS, atau turun sekitar 1,5 persen dibandingkan akhir Desember 2025.

Perry menjelaskan, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan valuta asing dari korporasi domestik seiring aktivitas ekonomi yang tetap berjalan. Untuk meredam volatilitas, Bank Indonesia memperkuat langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar spot dan non-deliverable forward (NDF), baik di pasar domestik maupun luar negeri.

“Kami melakukan stabilisasi secara terukur agar pergerakan rupiah tetap terkendali,” tegas Perry.

Upaya stabilisasi tersebut ditopang oleh cadangan devisa Indonesia yang pada akhir Desember 2025 tercatat sebesar US$156,5 miliar, setara pembiayaan lebih dari enam bulan impor dan berada di atas standar kecukupan internasional.

Dari sisi harga, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) sepanjang 2025 tercatat sebesar 2,92 persen, dengan inflasi inti sebesar 2,38 persen. Kondisi inflasi yang rendah serta ekspektasi inflasi yang tetap terjaga menjadi salah satu pertimbangan utama Bank Indonesia dalam mempertahankan suku bunga acuan.

(Nur Aida Nasution)

 

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi