Jakarta, Aktual.com – Nilai tukar rupiah melemah ke Rp17.064 per dolar AS pada perdagangan Selasa (7/4/2026), tertekan sentimen global dan pergerakan dolar AS di pasar internasional. Pelemahan ini memperpanjang tren depresiasi yang dalam beberapa waktu terakhir menahan rupiah di kisaran Rp17.000 per dolar AS.

Seiring dengan pergerakan tersebut, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, memastikan kondisi rupiah masih dalam batas yang telah diantisipasi pemerintah. Ia menegaskan pelemahan yang terjadi belum keluar dari proyeksi yang sebelumnya disusun melalui berbagai simulasi kebijakan.

Menurutnya, pemerintah sejak awal telah menghitung sejumlah kemungkinan tekanan terhadap nilai tukar, termasuk dari faktor eksternal. “Jadi itu masih dalam hitungan skenario,” ucap Purbaya saat ditemui Aktual.com di Kementerian Keuangan, Jakarta.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa skenario tersebut disusun dengan memasukkan berbagai asumsi makro yang dapat memengaruhi pergerakan kurs. Perubahan harga komoditas global hingga dinamika pasar keuangan menjadi bagian dari perhitungan untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Dengan pendekatan itu, pemerintah berupaya memastikan gejolak rupiah tidak langsung berdampak luas terhadap kondisi ekonomi domestik. Stabilitas tetap dijaga melalui kombinasi kebijakan yang telah disiapkan sejak awal sebagai langkah antisipatif.

Di sisi lain, Purbaya menyebut pengelolaan teknis nilai tukar tetap berada di tangan otoritas moneter. Pemerintah, dalam hal ini, lebih berfokus menjaga fondasi ekonomi agar tetap kuat di tengah tekanan eksternal.

“Kalau soal rupiah, kita serahkan ke Bank Sentral, ke ahlinya. Saya percaya dia bisa betulin,” kata dia.

Dengan koordinasi itu, ia memastikan pelemahan rupiah masih dalam rentang yang dapat dikendalikan. Pemantauan pasar terus dilakukan untuk memastikan pergerakan nilai tukar tetap sejalan dengan skenario yang telah dipersiapkan.

(Nur Aida Nasution)

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi