Jakarta, Aktual.com – Bank Indonesia (BI) membuka sinyal penurunan suku bunga lanjutan untuk menopang pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan geopolitik global yang terus meningkat. Arah kebijakan itu disampaikan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
“Langkah tersebut tetap disiapkan dengan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi agar risiko terhadap sistem keuangan tetap terkendali. Kami masih melihat ke depan ada ruang penurunan suku bunga lebih lanjut,” kata Perry di Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (27/1/2026).
Ruang pelonggaran tersebut ditopang oleh kondisi inflasi inti yang dinilai masih rendah. Kepala bank sentral menjelaskan inflasi inti Desember 2025 tercatat sebesar 2,38 persen, berada di bawah titik tengah sasaran, sehingga mencerminkan kapasitas ekonomi nasional yang masih longgar.
Di sisi lain, otoritas moneter mengakui nilai tukar rupiah sempat mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir. “Tekanan terhadap rupiah itu lebih bersifat teknikal dan jangka pendek,” lanjutnya, merujuk pada meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.
Untuk meredam volatilitas, BI menegaskan komitmennya menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi terukur di pasar valuta asing, baik di dalam maupun luar negeri. Menurut Perry, langkah tersebut dilakukan secara konsisten agar pergerakan rupiah tetap sejalan dengan fundamental ekonomi.
Upaya stabilisasi tersebut mulai tercermin pada pergerakan rupiah dalam perdagangan terkini. Pada penutupan terakhir, nilai tukar rupiah kembali menguat ke kisaran Rp16.770 per dolar AS, seiring meredanya tekanan eksternal dan respons positif pasar.
Selain instrumen suku bunga, bank sentral juga mengoptimalkan bauran kebijakan melalui pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder serta pendalaman pasar uang. Kebijakan ini diarahkan untuk menjaga kelonggaran likuiditas sekaligus memperkuat transmisi kebijakan moneter.
“Tujuan kami adalah menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi,” tutur Perry.
(Nur Aida Nasution)
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi

















