Jakarta, Aktual.com – Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO BPI Danantara Rosan Roeslani, menegaskan pelemahan nilai tukar rupiah belum berdampak signifikan terhadap iklim investasi nasional. Pemerintah menyebut kondisi tersebut masih berada dalam batas toleransi yang dapat diterima investor.

Menurut Rosan, fluktuasi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat telah menjadi faktor yang diperhitungkan investor sejak awal masuk ke Indonesia.

“Pergerakan rupiah ini masih dalam rentang yang sangat bisa diterima oleh investor luar,” ucapnya kepada awak media di Kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Kamis (15/1/2026).

Ia mengungkapkan perlambatan pertumbuhan penanaman modal asing (PMA) tidak mencerminkan penurunan kepercayaan investor, melainkan dipicu oleh laju investasi domestik yang lebih agresif. Percepatan tersebut terutama ditopang realisasi proyek di sektor kimia, kesehatan, plasma darah, serta pengolahan sampah menjadi energi.

Sejumlah proyek strategis, termasuk waste to energy, saat ini telah memasuki tahap awal konsumsi dan proses lelang. Akselerasi proyek tersebut dinilai memperbesar kontribusi penanaman modal dalam negeri (PMDN) secara persentase dibandingkan investasi asing.

Di sisi lain, tekanan eksternal tetap menjadi faktor yang memengaruhi arus investasi global. Rosan menyinggung ketegangan geopolitik, termasuk hubungan Amerika Serikat dan Venezuela, sebagai dinamika yang berada di luar kendali pemerintah Indonesia.

Untuk menjaga daya tarik investasi, pemerintah terus melakukan berbagai upaya mitigasi. Langkah tersebut dilakukan melalui penyederhanaan regulasi dan penyesuaian kebijakan agar semakin ramah terhadap investor. Pemerintah juga membuka ruang dialog secara berkelanjutan dengan pelaku usaha guna menekan tingkat ketidakpastian.

“Kami aktif berkomunikasi, mendengarkan apa yang dibutuhkan investor, dan apa yang perlu diperbaiki supaya ketidakpastian bisa ditekan,” kata Rosan.

Di pasar keuangan, rupiah pada perdagangan Kamis sore ditutup melemah 31 poin ke level Rp16.896 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp16.865. Sepanjang hari, mata uang Garuda sempat tertekan hingga 35 poin seiring penguatan indeks dolar Amerika Serikat.

Meski rupiah melemah, pemerintah tetap meyakini arus investasi akan bergerak sesuai target.

“Stabilitas nasional kita masih sangat baik, dan itu menjadi keunggulan utama Indonesia,” pungkasnya.

(Nur Aida Nasution)

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi