Jakarta, Aktual.co — Tertundanya penerbangan maskapai Lion Air hingga beberapa hari membuat beberapa rentetan panjang dan kritikan dari pelbagai pihak. Mulai dari tudingan mogok kerja karyawan Lion Air hingga permasalahan keuangan. Pasalnya, Lion Air sempat melakukan kerja sama bisnis dengan membeli 150 pesawat Air Bus dari Amerika Serikat.
Mantan Sekretaris Menteri BUMN era Jusuf Kalla, Said Didu menilai pembelian 150 pesawat patut dipertanyakan. Pasalnya, untuk membeli pesawat tersebut, Rusdi Kirana harus menyediakan setidaknya 30 persen dari Rp500 triliun, atau Rp150 triliun.
“Secara bisnis pembelian pesawat Rp500 triliun, Rusdi kirana harus menyediakan modal 30 persen, artinya mereka harus memiliki Rp150 triliun,” ujar Said Didu di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (20/2).
Menurutnya, Rusdi Kirana akan masuk daftar orang terkaya di Indonesia kalau dia memiliki uang segitu banyak. Drinya mempertanyakan darimana Rusdi mendapatkan uang segitu banyak, apabila menggunakan jaminan, melalui siapa dia meminta jaminan sebanyak itu. Dirinya mencurigai bisnis maskapai menjadi celah pebisnis nakal untuk melakukan pencucian uang.
“Pencucian uang itu banyak di bisnis pesawat. Karena satu pesawat saja bisa berharga Rp700 miliar, kalau dibelikan mobil banyak banget, engga masuk akal,” tegasnya.
Lion Air, menurutnya, banyak melibatkan campur tangan semua pihak sehingga menjadikan maskapai tersebut anak istimewa. Bahkan kementerian perhubungan terlihat enggan menegur maskapai milik Rusdi Kirana.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka
















