Jakarta, aktual.com – Mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan duka mendalam atas gugurnya tiga prajurit TNI yang tergabung dalam pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon. Ia juga menyoroti kondisi penugasan yang dinilai semakin berbahaya bagi personel Indonesia.
“Indonesia berduka karena tiga prajurit yang bertugas sebagai penjaga perdamaian (peacekeeper) di Libanon gugur. Beberapa prajurit juga mengalami luka berat, termasuk dalam insiden ketiga kemarin, di tempat penugasan mereka,” ucap Mantan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono melalui cuitannya di X, Minggu (5/3).
SBY mengaku merasakan duka yang mendalam saat memberikan penghormatan terakhir kepada para prajurit yang gugur, serta melihat langsung kesedihan keluarga yang ditinggalkan.
“Ketika saya ikut memberikan penghormatan kepada jenasah Mayor Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan dan Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadon, hati saya ikut tergetar. Memang seorang prajurit disumpah untuk siap mengorbankan jiwa dan raganya ketika tugas negara memanggil. Namun, saya bisa merasakan duka yang mendalam dari keluarga mereka (istri, anak dan orang tua) yang hadir di Cengkareng semalam. Saat saya ikut mengucapkan bela sungkawa yang mendalam kepada mereka, saya tahu arti air mata yang jatuh di pipi mereka,” ucapnya.
Dalam pernyataannya, SBY juga menyatakan dukungan terhadap langkah pemerintah yang mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melakukan investigasi atas rangkaian insiden yang menimpa pasukan Indonesia.
“Merasakan ini semua, secara pribadi saya mendukung langkah-langkah pemerintahan Presiden Prabowo yang mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melakukan investigasi secara serius, jujur dan adil. Indonesia berhak untuk itu. PBB (utamanya UNIFIL) dengan penuh rasa tanggung jawab, harus bisa menjelaskan mengapa sejumlah insiden beruntun yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka “peacekeeper” dari Indonesia itu terjadi,” katanya.
SBY menilai investigasi tetap dapat dilakukan meskipun dalam kondisi konflik yang dinamis, sebagaimana pengalamannya saat bertugas dalam misi PBB di Bosnia.
“Saya tahu bahwa investigasi dalam situasi pertempuran yang amat dinamis sering tidak mudah. Tetapi, bagaimanapun tetap dapat dilaksanakan dengan harapan hasilnya dapat dinalar dan masuk akal (acceptable, believable narrative). Saya pernah mengemban tugas PBB di Bosnia (former Yugoslavia) tahun 1995-1996. Dengan pangkat Brigadir Jenderal, saya menjadi Kepala Pengamat Militer PBB. Investigasi terhadap pelanggaran gencatan senjata juga sering kami lakukan,” katanya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pasukan penjaga perdamaian memiliki mandat terbatas dan tidak dirancang untuk terlibat dalam pertempuran langsung.
“Satuan pemeliharaan perdamaian PBB, contohnya Kontingen Garuda XXIII/S yang sedang mengemban tugas di Libanon saat ini, tugasnya adalah untuk menjaga perdamaian (peacekeeping), bukan “peacemaking”. “Peacekeeper” tidak dipersenjatai secara kuat dan tidak pula diberikan mandat untuk melaksanakan tugas-tugas pertempuran. Ini diatur dalam Chapter 6 Piagam PBB. Bukan Chapter 7 yang punya misi “to enforce the peace”, dalam arti melaksanakan tugas yang “lebih keras” untuk sebuah “peacemaking”. Mereka bertugas di “blue line” atau di wilayah “blue zone”, yang bukan merupakan daerah pertempuran atau “war zone”,” katanya.
Namun, kondisi di lapangan kini berubah, di mana pasukan penjaga perdamaian justru berada di wilayah konflik aktif.
“Kontingen Indonesia, hakikatnya bertugas di “Blue Line” yang memisahkan teritori Israel dengan teritori Libanon. Sekarang ini, kenyataannya yang semula mereka berada di sekitar “Blue Line” kini sudah berada di “war zone”, yang sehari-hari sudah berkecamuk pertempuran antara pihak Israel dan Hizbullah. Bahkan dikabarkan pasukan Israel sudah maju 7 km dari “Blue Line”. Keadaan ini tentu sangat berbahaya bagi “peacekeeper” karena setiap saat bisa menjadi korban dari pertempuran yang tengah berlangsung,” jelasnya.
Atas dasar itu, SBY mendorong PBB segera mengambil langkah tegas, termasuk menghentikan atau memindahkan penugasan pasukan dari zona konflik.
“Dengan argumentasi ini, seharusnya PBB, New York segera mengambil keputusan dan langkah yang tegas untuk menghentikan penugasan UNIFIL dan atau memindahkan lokasi mereka ke luar medan pertempuran yang masih membara saat ini,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya peran Dewan Keamanan PBB dalam merespons situasi tersebut secara adil dan tanpa standar ganda.
“Dewan Keamanan PBB harus segera bersidang dan bisa mengeluarkan resolusi yang tegas dan jelas. Saya masih ingat ketika sebagai Menkopolkam RI, harus menghadiri Sidang DK PBB tahun 2000 karena ada insiden di Atambua yang menewaskan 3 orang petugas kemanusiaan PBB akibat unjuk rasa yang terjadi di wilayah Atambua, NTT waktu itu. PBB tidak boleh pilih kasih dan menggunakan standar ganda,” ungkapnya.
SBY juga menyatakan keterlibatan emosionalnya dalam isu ini, mengingat perannya dalam menginisiasi pengiriman pasukan Indonesia ke Lebanon saat menjabat sebagai presiden.
“Sebagaimana yang dilakukan Presiden Prabowo, secara pribadi, saya juga merasa punya kewajiban moral untuk ikut memperjuangkan keadilan bagi prajurit-prajurit TNI yang menjadi korban di Libanon ini. Mengapa? Ketika menjadi presiden Indonesia dulu, saya berinisiatif dan mengusulkan kepada PBB untuk mengirimkan satu batalyon plus Indonesia sebagai bagian dari Pasukan Pemeliharaan Perdamaian PBB di Libanon,” katanya.
Ia juga mengingat kembali proses diplomasi dan pengiriman kontingen pertama Indonesia ke Lebanon pada 2006, termasuk kerja sama dengan Prancis dalam pengadaan alat utama sistem persenjataan.
“Kontingen Indonesia pertama, Garuda XXIII/A, tiga bulan kemudian (November 2006) sudah bisa berangkat ke Libanon. Untuk diketahui, 3 orang anggota kabinet Presiden Prabowo adalah bagian dari kontingen Indonesia tersebut, yaitu Kapten Kav Muhammad Iftitah Sulaiman, Lettu Inf Agus Harimurti Yudhoyono, dan Lettu Kav Ossy Dermawan,” katanya.
SBY menutup pernyataannya dengan memberikan semangat kepada prajurit yang masih bertugas di Lebanon agar tetap menjalankan tugas dengan baik dan menjaga keselamatan.
“Sebagai seorang sesepuh dan senior TNI, saya sampaikan kepada para prajurit Kontingen Garuda XXIII/S yang masih berada di Libanon untuk tetap bersemangat dalam mengemban tugas mulia. Do your best dan jaga diri baik-baik. Keluarga yang mencintai kalian menunggu kehadiran kembali di Tanah Air,” tutupnya.
Artikel ini ditulis oleh:
Rizky Zulkarnain

















