Jakarta, Aktual.co — Presiden RI ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kerap menjadi sasaran kritikan saat dirinya memimpin Indonesia selama dua periode atau satu dekade terakhir.
Sebab, menurut Ketum Partai Demokrat itu, hujatan yang datang dari berbagai pihak bahkan masyarakat sekalipun sudah menjadi kodrat bagi seorang pemimpin.‎‎‎”Pemimpin juga harus siap diapakan saja, dicemooh, dihujat, dikritik, harus siap. harus menanggung segalanya. Begitu kodratnya,” kata SBY  ‎dalam acara ‘Empat Pemimpin Bangsa Berbagi Cerita mengenai Ilmu Kepemimpinan, Resep Sukses, Etos Kerja, dan Prinsip Hidup’ di XXI Ballroom, Gedung Jakarta Teater, Jakarta Pusat, Minggu (17/5).‎
Pemimpin, tak terkecuali presiden memang harus siap berkorban demi rakyatnya. Di pundak seorang presiden beban masa depan bangsanya dipikul.
Selain itu, kata SBY, seorang pemimpin harus berani bertanggung jawab atas segala tindakan dalam mengambil keputusan atau suatu kebijakan untuk negaranya.‎
‎”Pemimpin harus siap berkorban, diapakan saja, dan menanggung beban.‎ Begitu jadi pemimpin, semua harus jadi tugas dan tanggung jawabnya,” kata pria yang lahir di Pacitan Jawa Timur itu.
Menurut Jenderal (Purn) TNI ini, kekuasaan dapat dimaknai beragam. Bicara tentang presiden atau pemimpin berarti bicara pula tentang kekuasaan.
Tapi yang terpenting adalah, lanjut SBY, bagaimana mengontrol kekuasaan itu juga sudah berada dalam genggaman pemimpin itu sendiri. Sehingga agar tidak terjadi penyalahgunaan kekuasaan atau abuse of power.
“A‎da yang bilang knowlegde is power, money is power, politic position is power, ada yang bintang (jenderal) is power. Dari mana kuasaan itu berasal? Kemudian jika sudah dimiliki, untuk apa? Jika sudah memiliki bagaimana kontrolnya? Yang paling penting bagaimana mengontrolnya,” ujar SBY.
Kekuasaan presiden, lanjut SBY, tak semena-mena di tangannya. Tetapi ada di bawah kontrol konstitusi dan undang-undang.‎
Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan era Presiden Megawati Soekarnoputri ini menambahkan, bahwa seorang presiden juga dikontrol dan diawasi oleh pers dan masyarakatnya. Termasuk juga NGO dan LSM-LSM.
“Ada yang namanya check and balances. Jangan lupa presiden dikontrol pers, NGO, dan rakyatnya. Yang penting, yang pegang kekuasaa itu harus bisa kontrol dirinya sendiri,” demikian SBY.

Artikel ini ditulis oleh: