Jakarta, Aktual.co — Kongres IV PDI Perjuangan dinilai fenomenal bukan hanya karena mengukuhkan kembali Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Umum parpol pertama yang bisa menjaga kebesaran partainya selama belasan tahun, namun juga karena kongres itu memastikan gerak langkah partai menuju modernisasi.
Kongres itu sekaligus memastikan pelaksanaan Nawa Cita oleh Pemerintahan Jokowi-JK.
Pengamat politik dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Banten, Leo Agustino, di Jakarta, Senin, mengatakan, kongres PDI-P telah menunjukkan kedinamikannya sendiri.
Selain menguatnya konsolidasi dalam tubuh PDI-P melalui pengukuhan Megawati, namun di sisi lain, kongres juga menunjukkan proses regenerasi pada trah Soekarno.
“Ini setidaknya terlihat dari pelantikan Puan Maharani sebagai Ketua Bidang Politik dan Keamanan, dan Muhammad Prananda Prabowo sebagai Ketua Bidang Ekonomi Kreatif dalam pengurus DPP PDIP periode 2014-2019,” kata Leo.
Sementara itu, terkait kerisauan partai-partai pengusung akan adanya ‘penumpang gelap’ dalam pemerintah Jokowi-JK. Kerisauan yang diungkapkan secara terbuka oleh Megawati itu sebenarnya terkait masalah harmoni itu mengingat Megawati begitu mendambakan hubungan yang intens antara partai dengan pemerintah.
Namun, kata dia, karena adanya “penumpang-penumpang ” gelap dalam pemerintah Jokowi, maka kedekatan Jokowi-Mega menjadi renggang.
Dalam konteks yang lebih luas, Leo menilai sebutan Megawati pada penumpang gelap dapatlah dipahami. Sebab Megawati menilai, Pemerintah Jokowi telah keluar dari Nawa Cita yang dijanjikannya kepada rakyat semasa kampanye dulu.
Sebagai bukti, kata Leo, ada sebuah tulisan tentang di sebuah media tentang ‘melencengnya’ Nawa Cita dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2014-2019. Menurut media tersebut, keberadaan Nawacita dalam RPJMN hanya 10 persen.
“Dalam konteks itulah, Megawati mengingatkan Jokowi bahwa ada hal mendasar yang harus diperhitungkan olehnya yaitu, pemimpin haruslah melayani rakyat sesuai janji-janji politik yang dinyatakannya pada saat kampanye pemilihan umum. Jangan sampai janji- janji tersebut tersandera oleh kepentingan para penumpang gelap yang boleh jadi, mereka itu, tidak pernah merumuskan Nawa Cita Presiden Jokowi,” papar Leo.
Artikel ini ditulis oleh:

















