Jakarta, Aktual.com – Sejak Januari hingga September 2015, tiap bulannya sekitar 22 kaca kereta api listrik Commuter Line Jabodetabek pecah. Penyebabnya, tak lain karena dilempar batu oleh orang dari luar. Jumlah aksi pelemparan pun lumayan banyak, 99 kali. Padahal, harga satu kaca senilai Rp1,5 juta.

Direktur Utama PT PT Kereta Api Indonesia Commuter Jabodetabek (KCJ), Muhammad Fadhil mengatakan, setelah dilakukan penelusuran akhirnya didapat 24 pelaku pelemparan.

“Ternyata pelakunya ini anak-anak dan rumah mereka jauh dari wilayah rel kereta api, mereka motifnya iseng,” kata dia, dalam konferensi pers di Stasiun Juanda, Jakarta, Jumat (4/9).

Untuk pencegahan, kata Fadhil, pihaknya pun lakukan pendekatan dengan berkunjung ke rumah tempat para pelaku tinggal.

Tak hanya itu, sosialisasi ke sekolah para pelaku juga dilakukan. Agar si anak tersebut dibina oleh gurunya di sekolah. “Kita ajak untuk pengajian, buka bersama dan menuliskan perjanjian di hadapan orang tua dan guru agar tidak mengulangi perbuatan itu lagi,” katanya.

Diakuinya, upaya yang bisa dilakukannya saat ini hanya sebatas sosialisasi untuk pencegahan. Karena anak-anak belum bisa dibawa ke ranah hukum.

Sedangkan untuk kaca keretanya sendiri, diakui Fadhil, pihaknya tidak akan merubah kaca KRL dengan yang lebih tebal atau dua lapi. Karena dikhawatirkan akan sulit dipecahkan jika terjadi kejadian membahayakan di dalam kereta.

“Untuk kaca, kita sesuai standar pelayanan minimum (SPM), berdasarkan ‘safety’ (sistem keselamatan) yang diatur karena kaca tidak didesain untuk dilempar,” kata dia.

(Ant)

()