Jakarta, Aktual.co — Sejuta kartu pos dari masyarakat Bali yang dikirimkan untuk Presiden RI, Joko Widodo guna mendukung upaya revitalisasi Teluk Benoa. Dukungan riil tersebut sekaligus bentuk langsung dukungan warga Bali terhadap kebijakan pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 51 Tahun 2014.
Koordinator aksi sejuta Kartu Pos Rakyat Bali, I Gede Wijaya, dalam keterangan tertulisnya mengatakan, mayoritas rakyat Bali ingin mendukung revitalisasi Teluk Benoa dengan cara damai. 
“Rakyat Bali cinta damai, yang mendukung revitalisasi menghindari aksi provokasi dan anarkhi melalui berbagai pagelaran konser. Kami memilih cara ini karena pesan yang ingin kami sampaikan lebih efektif, langsung sampai pada presiden,” kata Wijaya.
Diungkapkan, dalam Kartu Pos juga diberikan kesempatan bagi warga Bali untuk menyampaikan harapannya kepada Presiden. Beberapa diantaranya yang sudah dituliskan seperti ‘Jokowi adalah Kita, Kita Dukung Revitalisasi’ dan ‘Revitalisasi Harga Mati’.
Ditekankan Wijaya, gagasan mengirim sejuta kartu pos muncul karena hingga kini belum ada tanda-tanda revitalisasi akan dilakukan. Pemerintah dalam hal ini, ingin mendengarkan langsung tanggapan masyarakat Bali. Wijaya sendiri bersama rekan-rekannya turut turun langsung untuk mendengarkan harapan warga.
“Tampaknya banyak rakyat Bali yang selama ini salah menerima informasi tentang manfaat revitalisasi Teluk Benoa,” jelasnya.
Untuk diketahui, pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 51/2014 yang membolehkan dilakukan revitalisasi di Teluk Benoa. Perpres diterbitkan karena kondisi Teluk Benoa yang memprihatinkan. Dari ancaman pendangkalan yang berdampak pada kehidupan hutan mangrove karena sedimentasi, hingga sampah-sampah sisa pembangunan jalan tol dan rumah tangga. 
Dari luas perairan Teluk Benoa yang seluas +/- 1400 Ha, area yang akan direklamasi seluas 700 Ha (50 persen), dan hanya 400 Ha (28,5 persen) yang akan dikembangkan sebagai pusat-pusat wisata yang baru. 
Sisanya seluas 300 Ha beserta Perairan Teluk Benoa akan didedikasikan untuk ruang terbuka hijau dan fasilitas sosial serta fasilitas umum (Fasos Fasum). Studi kelayakan bersama yang dilakukan IPB, ITB, UGM, ITS dan Unhas juga menghasilkan kesimpulan, kawasan Teluk Benoa dapat direvitalisasi.

Artikel ini ditulis oleh: