Seorang pelaku usaha yang tergabung dalam komunitas Tangan Di Atas (TDA) menata barang dagangannya saat pameran di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (26/10/2019). Hampir seluruh anggota pelaku usaha yang tergabung dalam komuitas UMKM itu bertransaksi dengan sistem daring. ANTARA FOTO/Basri Marzuki/foc.

Yogyakarta, Aktual.com – Dampak pandemi Covid-19 yang berkepanjangan mengakibatkan pelaku usaha mikro kecil dan menengah produk kerajinan di kawasan Borobudur, Jawa Tengah sepi permintaan.

Pelaku UMKM produk kerajinan di Dusun Jowahan, Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Nuryanto di Magelang misalnya. Semenjak pandemi tidak ada lagi permintaan produk dari luar kota maupun luar negeri.

“Permintaan produk kerajinan penurunannya luar biasa, karena semua tutup. Kami tidak lagi kirim produk ke Singapura, Malaysia maupun ke sejumlah kota di dalam negeri seperti Bali dan Yogyakarta selama pandemi,” kata Nuryanto kepada wartawan, Rabu (23/6).

Padahal, kata pemilik Lidya Art ini, sebelum pandemi merebak di Indonesia, dirinya hampir setiap tiga hari sekali mengirim produk ke Bali maupun Yogyakarta. Namun, sekarang benar-benar tidak ada permintaan.

Karena sepinya permintaan produk tersebut, pihaknya juga mengurangi karyawan, dari sebelumnya 40 orang kini tinggal sekitar 15 orang.

Nuryanto menuturkan untuk bertahan di tengah pandemi ini pihaknya memproduksi wastafel, handsanitizer, dan membuat masker lukis untuk memenuhi kebutuhan lokal.

Selama ini Nuryanto dikenal sebagai perajin khusus dari bahan baku limbah. Tidak hanya limbah furniture dan kaleng bekas, tetapi juga olahan batu kali dijadikan produk kerajinan.

Produk kerajinan yang dihasilkan antara lain miniatur Candi Borobudur, baik berupa candi, stupa, papan relief maupun patung Buddha.

(Nusantara Network)