Semarang, Aktual.co —Sembilan relawan tewas dalam serangan oleh kelompok bersenjata di sebuah kantor lapangan di utara distrik Zari Balkh, Afghanistan,  Selasa (2/6) malam.
Kepala Departemen Pidana Provinsi Balkh, Abdul Razaq Qaderi menyebut sembilan tenaga relawan tersebut bekerja untuk Program Solidaritas Nasional Afghanistan.
Sebuah organisasi kemanusiaan Republik, People in Need, mengatakan relawan yang dipekerjakan adalah warga negara Afghanistan juga. 
Sebuah pernyataan di situs organisasi kemanusian turut pula menyampaikan belasungkawa kepada keluarga pekerja dan mengutuk serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Hingga kini, penyelidikan pun sedang berlangsung atas insiden tersebut. “Identitas para penyerang tidak diketahui, tetapi menurut informasi yang tersedia mereka bukan berasal dari daerah di mana PIN telah bekerja sejak tahun 2002,” katanya, dikutip dalam berita CNN.
“PIN segera menunda semua pekerjaan di Afghanistan dan mengadopsi langkah-langkah untuk memperkuat keamanan karyawan di negara itu,” imbuh pejabat lokal Afghanistan Abdul Razaq.
Presiden Afghanistan Ashraf Ghani mengutuk serangan itu dan mereka bertanggung jawab atas pembangunan di Afghanistan.
Para penyerang menewaskan pekerja yang tidak bersalah itu membantu sesama mereka yang sama-sama membutuhkan.
Qaderi mengatakan sebuah tim telah dikirim ke daerah itu untuk menyelidiki. Meski begitu, ia tidak mengatakan siapa militan bersenjata.
Dari sebuah situs, pemerintah Afghanistan menciptakan Program Solidaritas Nasional pada tahun 2003. Program itu bertujuan mengembangkan kemampuan masyarakat Afghanistan untuk mengidentifikasi, merencanakan, mengelola dan memantau proyek-proyek pembangunan mereka sendiri.
Mark Bowden, koordinator kemanusiaan untuk Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan di Kabul, mengatakan, serangan itu menyoroti pekerja bantuan tantangan dihadapi Afghanistan dan pengorbanan mereka tidak dapat diterima.
“Sejak awal 2015, ada 26 pekerja bantuan telah tewas, dengan 17 lainnya luka-luka dan 40 diculik,” katanya dalam sebuah pernyataan.
“Para pekerja bantuan di Afghanistan memberikan perawatan trauma darurat, menjalankan makan (program) untuk anak-anak kurang gizi dan membantu pengungsi dari bencana konflik dan alam. Serangan terhadappekerja bantuan mengurangi kemampuan mereka untuk melaksanakan kegiatan penting, meninggalkan paling rentan di Afghanistan yang paling berisiko,” pungkas dia.

()