Ilustrasi

Singapura, Aktual.com – Harga minyak naik tipis di perdagangan Asia pada Senin sore, setelah negara-negara OPEC+ mempertahankan target produksi mereka stabil menjelang larangan Uni Eropa dan pembatasan harga pada minyak mentah Rusia.

Pada saat yang sama, tanda positif untuk permintaan bahan bakar, lebih banyak kota di China melonggarkan pembatasan COVID-19 selama akhir pekan, meskipun pelonggaran sebagian kebijakan menimbulkan kebingungan di seluruh negeri pada Senin (5/12).

Minyak mentah berjangka Brent terakhir naik 49 sen atau 0,6 persen, menjadi diperdagangkan di 86,06 dolar AS per barel pada pukul 07.00 GMT. Minyak mentah WTI berjangka naik 51 sen atau 0,6 persen, menjadi diperdagangkan di 80,49 dolar AS per barel.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya termasuk Rusia, bersama-sama disebut OPEC+ pada Minggu (4/12/2022) sepakat tetap berpegang pada rencana Oktober mereka untuk memangkas produksi sebesar 2 juta barel per hari (bph) mulai November hingga 2023.

Analis mengatakan keputusan OPEC+ sudah diharapkan karena produsen-produsen utama menunggu untuk melihat dampak larangan impor Uni Eropa dan batas harga Kelompok Tujuh (G7) 60 dolar AS per barel pada minyak Rusia yang dikirim melalui laut, dengan Rusia mengancam akan memangkas pasokan ke negara mana pun yang mengikuti pembatasan.

“Sementara OPEC tetap stabil pada produksi selama akhir pekan, saya perkirakan mereka akan terus menyeimbangkan pasar,” kata Baden Moore, kepala riset komoditas di National Australia Bank.

“Penurunan dari rilis SPR, dan penerapan sanksi Uni Eropa dan tindakan pembatasan harga untuk memperketat pasar, meskipun kami berharap pasar telah memposisikan diri untuk prospek ini,” katanya, mengacu pada cadangan minyak strategis AS.

Namun, keputusan OPEC+ untuk mempertahankan produksi tidak berubah, bersama dengan data ekonomi yang lemah dari China dapat membalikkan kenaikan harga minyak, kata Leon Li, analis CMC Markets yang berbasis di Shanghai.

“Data ekonomi China saat ini masih lemah, dengan penurunan impor dan ekspor yang tajam, yang mencerminkan permintaan domestik yang lesu dan tren penurunan ekonomi luar negeri. Mendorong permintaan minyak mentah sangat menantang,” kata Li.

“OPEC+ mempertahankan produksinya tidak berubah. Tanpa langkah pengurangan produksi lebih lanjut, harga minyak bisa jatuh lagi.”

Aktivitas bisnis dan manufaktur di China, ekonomi terbesar kedua di dunia dan importir minyak mentah utama, terpukul tahun ini di tengah langkah-langkah toleransi nol yang ketat untuk mengekang penyebaran virus corona.

(Warto'i)