Berdasarkan data yang diterbitkan BI pagi ini, kurs rupiah berada di angka Rp13.329 per dolar AS, terdepresiasi tipis 0,2% atau 3 poin dari posisi 13.326 kemarin. Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah terpantau menguat 0,03% atau 4 poin ke Rp13.327 per dolar AS di pasar spot, setelah dibuka dengan penguatan hanya 0,01% atau 1 poin di Rp13.330.‎ AKTUAL/Munzir

Jakarta, Aktual.com – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) dibuka melemah 10 poin. Terlihat, pasar mulai tak percaya dengan laju inflasi April 2017 sebesar 0,09 persen dan kebijakan Presiden Jokowi yang mengevaluasi banyak proyek strategis nasional.

Berdasar data Bloomberg, rupiah dibuka di posisi Rp13.318 dari sesi penutupan kemarin di level Rp13.308. Pelemahan rupiah terus terjadi, hingga pukul 08.45 WIB, rupiah kian melemah ke level Rp13.327.

Menurut analis pasar uang dari PT Binaartha Sekuritas, Reza Priyambada, sentimen positif dalam negeri sepertinya mulai tak direspon positif pelaku pasar.

“Apalagi kemudian, munculnya sejumlah prediksi terkait akan terlampauinya perkiraan inflasi di tahun ini melebihi 4 persen. Kondisi itu akan disumbang oleh kenaikan bertahap tarif dasar listrik (TDL) kapasitas 900 VA,” ujar Reza di Jakarta, Kamis (4/5).

Dia melanjutkan, meski kemarin rupiah sempat menguat dan berbarengan dengan evaluasi yang dilakukan Presiden Jokowi terhadap 225 proyek strategis nasional, tapi sepertinya sentimen positif itu telah lewat.

Saat ini, kata dia, justru, sentimen global lebih kuat memengaruhi pergerakan rupiah. Meski pihaknya berharap penguatan rupiah dapat berlanjut, namun ternyata tertahannya laju penguatan lanjutan tersebut seiring dengan adanya sentimen pertemuan FOMC The Federal Reserve.

“Cermati berbagai sentimen yang ada terutama imbas pertemuan The Fed tersebut terhadap laju USD. Diperkirakan Rupiah akan bergerak dengan kisaran resistennya di level Rp13.289. Namun untuk rentang support di posisi Rp13.315 telah terlampaui,” papar dia.

(Busthomi)

Artikel ini ditulis oleh:

Eka