Pelalawan, Aktual.com – Kepergian tokoh muda Said Abu Supian meninggalkan makna ganda bela negeri sampai badan berkalang tanah, dan janganlah “penceroboh beraja-raja di tanah raja”.

Said Abu Supian telah pergi. Sebuah kecelakaan demi menjemput marwah negeri mengakhiri jejak perjuangannya. Terasa terlalu awal. Tapi disitulah sebuah aksentuasi pesan makin bergema.

SAS, mewakili jerit luka anak-anak negeri Melayu. Yang tanah, rimba belantara, sungai dan labirin ekologis negeri telah terkoyak. Rabak. Bekecai harai.

Riau telah menjadi “padang perburuan” yang mengasyikkan. Orangnya ramah tamah. Penuh senyum bersahabat. Bila mendengar suara suara bising, terjadi pertelagahan, orang Melayu memilih berundur. “Tak usah dekat dekat nak, nantik awak pulak kene,” demikian salah satu pola pikir mulia yang diajarkan.

Tapi tanah dan rimba adalah pusaka kemilau bagi para pendatang ceroboh. Disamput pula tarian “tudung periuk pandai menari” , “kain buruk berikan ke kami”, maka terbahaklah para cukong gigi ompong penuh seringai.

Tanah dipatok, pokok di tumbang, sungai di timbus, beruk dihalau, ulayat dianggap kualat, adat berubah tumpat. Budak budak negeri terkejut, timbullah segala risau, gegau, “jalu” (berjalan ketika sedang tidur) menjalar sampai ke sendi tulang.

Ingatan pada Salatus Salatin (Kitab Sejarah Melayu tahun 1612 M) terkubur dalam pucat pasi dihadapan konglomerasi dan cukong basi. Padahal Raja dan Sultan Melayu dalam kitab itu berasal dari Tokoh Iskandar Zulkarnain, Panglima Perang penguasa dunia.

Tinggallah SAS anak milenial yang sering bertanjak kemana mana. Baju merah sederhana bertuliskan “Suara Riau” seakan membahanai dunia dengan “raung suara jebat”. Kombinasikan tanjak simbol raja dan sultan dengan suara suara Riau yang menolak takluk.

Tapi akankah berguna eksistensi SAS yang telah pergi, bila hari ini ditanah kami masih bercokol orang ongeh yang “beraja-raja ditanah raja, menghulu hulu ditanah penghulu”?

Riau yang galau, yang mulia hati merendah diri, yang pengalah walau laman sudah dirambah. Hampir-hampir tiada lagi celah untuk menegak marwah. Dikepung kanan kiri, dipatok ketika lengah, hendak melawan kawan-kawan buang badan. Nafsi nafsi. Hendak mengadu, para pemangku telah bersekutu.

Tapi mungkin engkau tidak sendirian SAS. Dalam rerentuhan longsor peradaban Melayu, “toch” ada satu dua budak berani yang tersangkut menggalut diantara akar kayu. Dia akan bangkit, menderu, menyapu,”membujur lalu melintang patah”. Tidak sekedar pendekar kedai kopi bernarasi menjaga marwah, padahal siang malam bersenda kapitalis bin cukong mafia tanah.

Para pemberani pewaris SAS akan terus melantunkan “Suara Riau”. Serempak walau serak ia menyeru:
“Kami Melayu, Lebih Baik Mati Berdiri daripada Hidup Berlutut,”.***

Panam, 25 September 2022
Elviriadi, Ph.D adalah kolumnis asal Selatpanjang, juga Pakar Lingkungan Hidup dan Kehutanan

(Ikhwan Nur Rahman)