Maulana Syarif Sidi Syaikh Dr. Yusri Rusydi Sayid Jabr Al Hasani saat menggelar Ta’lim, Dzikir dan Ihya Nisfu Sya’ban (menghidupkan Nisfu Say’ban) di Ma’had ar Raudhatu Ihsan wa Zawiyah Qadiriyah Syadziliyah Zawiyah Arraudhah Ihsan Foundation Jl. Tebet Barat VIII No. 50 Jakarta Selatan, Jumat (19/4/2019). AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, aktual.com – Maulana Syekh Yusri Rusydi menjelaskan, bahwa kedudukan shalat adalah diantara macam-macam ibadah yang sangat tinggi derajatnya. Hal ini bisa dilihat dari beberapa segi, diantaranya adalah dari segi bagaimana dan dimana shalat ini difardhukan kepada umat Rasulullah Saw.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa shalat difardhukan ketika terjadi peristiwa isra dan mi’raj Rasulullah, dimana baginda bertemu langsung dengan Allah Ta’ala tanpa melalui perantara dan mendapatkan khitab langsung dari Tuhannya. Maka oleh sebab ini, baginda Nabi termasuk dalam firman Allah Ta’ala:

تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ

“Mereka para Rasul telah kami utamakan sebagian mereka diantara sebagian yang lain. Diantara mereka ada (rasul) yang telah dikhitab (secara langsung tanpa melalui perantara) oleh Allah, dan Allah telang mengangkat derajat dari sebagian mereka (di atas derajat rasul lainnya),” (QS. Al Baqarah: 253).

Dan diantara mereka adalah nabi Adam AS, nabi Nuh AS, nabi Ibrahim AS, nabi Musa AS dan lainnya.

Dimana Rasulullah telah melihat Allah Ta’ala secara langsung, dan bahkan tidak hanya sekali, akan tetapi sampai enam kali, yaitu ketika baginda meminta keringanan untuk umatnya sesuai dengan nasehat dari nabi Musa AS. Pada mulanya Allah mewajibkan 50 waktu, hingga akhirnya menjadi 5 waktu dengan pahala 50 waktu atas dasar karunia Allah Swt.

Adapun dari segi tempat, shalat ini difardhukan ketika baginda berada pada tempat yang sangat mulia, tempat dimana tidak ada satupun makhluk Allah Swt menginjakkan kakinya di sana kecuali Rasulullah, yaitu sebuah tempat yang dinamakan dengan sidrat al muntaha yang berada setelah bait al-ma’mur yang merupakan kiblatnya para malaikat AS. Dinamakan sidrat almuntaha oleh sebab disinilah akhir dari pada ilmunya makhluk dari para malaikat yang pimpinannya adalah malaikat Jibril AS.

Adapun ibadah-ibadah selain shalat diwajibkan ketika baginda berada di bumi dan tidak dalam keadaan berkhitab langsung (maqam ru’yah) kepada Allah Ta’ala. Maka tidak heran sekiranya, bahwa ibadah ini adalah merupakan cara beribadah yang paling dekat dari seorang hamba kepada Tuhannya.

Wallahu A’lam

(Rizky Zulkarnain)