Jakarta, Aktual.Com -Mantan Tim Reformasi dan Tata Kelola Migas, sekaligus Pengamat Ekonomi dan Energi dari UGM, Fahmy Radhi menyebut permasalahan shutdown kilang Pertamina bukan hanya semata masalah fasilitas yang termakan usia, namun juga ada riak politis yang bertujuan menjatuhkan Direktur Utama, Dwi Sutjipto dari kursi jabatannya di Perusahaan itu.
Menurutnya masalah kerusakan fasilitas kilang ini sebagai pintu masuk untuk menjustifikasi kinerja buruk Pertamina, dimana pada akhirnya akan menjadi pertanggungjawaban pucuk pimpinan, dalam hal ini Dwi Sutjipto.
“Bisa jadi momentum kerusakan kilang digunakan untuk menjatuhkan Dwi sebagai Dirut Pertamina, yang selama ini secara sistemik akan dilengserkan,” kata Fahmy kepada Aktual.com, Selasa (24/1).
Dia menambah, diantara tanda-tanda upaya melumpuhkan ruang gerak Dwi, terjadi skema perombakan struktur dengan menambahkan posisi Wakil Direktu di lembaga perusahaan plat merah itu.
“Salah satunya adalah kebijakan Menteri BUMN, Rini Soemarno menempatkan Wakil Direktur Pertamina sebagai manuver mempreteli kewenangan Dwi sebagai Dirut Pertamina,” tandasnya.
Senada apa yang disampaikan oleh Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI), Yusri Usman bahwa Menteri Rini Soemarno diduga berupaya menyingkirkan posisi Dwi Sucipto sebagai Dirut Pertamina yang kabarnya telah mengancam posisi Rini sebagai Menteri BUMN pada resuffle jilid 3 pada bulan juli 2016.
“Dugaan langkah itu semakin nyata ketika Rini Soemarno melakukan kebijakan “hatrick” terhadap manajemen Pertamina,” katanya.
Pertama, Rini merombak struktur dengan menambahkan jabatan Wakil Dirut dan Direktur Megaproyek. Kemudian mengangkat Ahmad Bambang sebagai Wakil Dirut Pertamina yang membawahi Direktorat Pemasaran, Direktorat Pengolahan dan Direktorat Energi Baru Terbarukan , dan bahkan akan menarik Fungsi ISC dibawahnya.
Tidak hanya itu, Rini juga mengangkat Toharso (latarbelakang pemasaran sepanjang karirnya) menjadi Direktur Pengolahan, kejadian ini bertepatan pada hari demo damai 212. Sehingga kejadian ini dipilih momentum pada saat perhatian publik terkalahkan.
“Dengan ke tiga langkah itu, maka sempurnalah pencipta mata hari kembar di Pertamina oleh Rini. Tentu posisi Direktur utama semakin lemah dan akan menjadi kambing hitam dari setiap proyek,” tandas Yusri.
Laporan: Dadangsah Dapunta
Artikel ini ditulis oleh:
Bawaan Situs















