Jakarta, aktual.com – Pemandangan langit pada April 2026 akan dihiasi dengan berbagai fenomena astronomi indah yang penuh makna dan dapat dinikmati masyarakat Indonesia dengan mata telanjang, yaitu penampakan bulan purnama Pink Moon dan meluncurnya Hujan Meteor Lyrids.

Pada awal bulan April, tepatnya Rabu, 1 April 2026, fenomena fase bulan purnama yang dijuluki Pink Moon akan menghiasi langit. Lalu, suatu peristiwa historis yakni salah satu fenomena hujan meteor tertua dalam sejarah, Hujan Meteor Lyrids, akan menjelang dengan estimasi puncaknya jatuh pada Rabu, 22 April 2026.

Fenomena Pink Moon

Fenomena Pink Moon akan jatuh pada Rabu, 1 April 2026, dan diperkirakan akan mencapai puncaknya pada Kamis, 2 April 2026, pukul 09.11 WIB, menurut Time and Date.

Masyarakat Indonesia dapat menikmati penampakan fenomena ini dengan mata telanjang tanpa harus menggunakan alat khusus astronomi seperti teleskop ataupun teropong.

Fenomena Pink Moon merupakan fase bulan purnama dengan arti signifikan, religius, dan historis. Tidak hanya sebagai tanda pertama musim semi, tetapi juga sebagai penentu jatuhnya tanggal Paskah bagi umat Kristen dan Katolik.

Julukan untuk fenomena bulan ini sering kali disalahartikan; orang yang pertama kali baru mendengar terkait fenomena ini mungkin akan berpikir bahwa Pink Moon berarti bulan akan tampak di langit dengan cahaya atau penampakan merah muda.

Namun nyatanya, julukan tersebut berakar dari sebuah bunga liar asal Amerika Utara, Phlox subulata, bunga yang bermekaran di awal musim semi.

Fenomena Pink Moon pun memiliki arti yang berakar dari tradisi suku-suku asli Amerika. Bagi suku Algonquin, fase bulan purnama ini dijuluki Breaking Ice Moon, dengan makna es yang mencair seiring datangnya musim semi.

Lalu bagi suku Dakota, purnama ini dijuluki Moon When the Streams Are Again Navigable, dengan makna lebih mudahnya perjalanan dan navigasi transportasi di sungai pada awal musim semi.

Hujan Meteor Lyrids

Hujan Meteor Lyrids merupakan fenomena saat Bumi melewati jalur debu-debu yang merupakan peninggalan Komet Thatcher (C/1861 G1). Di atmosfer, partikel-partikel kecil tersebut berpijar dan terbakar sehingga terlihat seperti meteor-meteor yang meluncur melintasi angkasa.

Asal-usul julukan nama Lyrids pun berakar dari sebuah rasi bintang, Lyra, yang menjadi pusat radian penampakan meteor, walaupun meteor-meteor sebenarnya tidak hanya berada di satu pusat spesifik melainkan muncul di seluruh penjuru langit.

Puncak Hujan Meteor Lyrids diperkirakan akan jatuh pada Rabu, 22 April 2026. Agar dapat menyaksikan fenomena ini dengan optimal, sebaiknya pengamatan dilakukan dari lokasi yang gelap serta tanpa hambatan polusi cahaya, seperti di pegunungan, desa, ataupun pantai.

Agar dapat benar-benar menikmati pengalaman tersebut, sebaiknya tidak menyalakan cahaya ponsel guna membantu mata beradaptasi secara perlahan dengan kegelapan selama sekitar 20–30 menit.

Fenomena Hujan Meteor Lyrids merupakan peristiwa yang signifikan, baik bagi antusias penggemar astronomi maupun masyarakat luas.

Sebagai salah satu hujan meteor tertua dalam sejarah manusia, fenomena ini patut untuk tidak dilewatkan. Apalagi, masyarakat dapat menikmatinya tanpa peralatan pengamatan astronomi khusus.

Artikel ini ditulis oleh:

Eroby Jawi Fahmi