Surabaya, Aktual.com РWali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan Silaturahmi Toleransi Kebangsaan yang digelar di Tugu Pahlawan, Jumat (28/10) malam, dalam rangka peringatan Hari Sumpah Pemuda adalah wujud keindahan pluralisme di Kota Surabaya.

Eri Cahyadi dalam keterangan tertulisnya di Surabaya, Sabtu (29/10, mengatakan bahwa dari dulu hingga hari ini Surabaya dikenal sebagai kota toleransi yang menjunjung tinggi harkat-martabat manusia.

“Bahkan, saat berperang melawan penjajah pada 10 November 1945, seluruh agama, suku, dan ras turut bersama berjuang di Kota Pahlawan,” kata dia.

Wali Kota Eri mengajak seluruh masyarakat untuk terus memberikan keamanan dan kenyamanan bagi umat agama apapun yang menjalankan ibadah di Surabaya.

Eri meminta masyarakat di Kota Pahlawan untuk terus mengumandangkan bahwa Surabaya adalah kota terbuka bagi seluruh golongan dan menjaga toleransi.

“Jika rasa ini kita wujudkan terus, saya yakin Insya Allah Surabaya tidak ada radikalisme, Surabaya tidak ada yang namanya kekacauan. Semuanya terjaga oleh arek-arek Suroboyo yang cinta perdamaian,” ujar dia.

Silaturahmi Toleransi Kebangsaan tersebut dihadiri ribuan masyarakat dari berbagai suku, ras, dan agama di Indonesia. Mereka antusias mengikuti jalannya kegiatan yang dipusatkan di sisi timur Tugu Pahlawan Surabaya.

Sebelumnya, pemkot juga menggelar upacara dengan dilanjutkan Deklarasi Surabaya damai yang dilakukan 38 komunitas pencak silat dan beladiri di Kota Pahlawan.

Silaturahmi Toleransi Kebangsaan yang digelar malam hari ini diramaikan 12 penampilan seni budaya dari berbagai suku, ras, dan agama di Indonesia, di antaranya Tari Remo dari Jawa Timur, Jaipong dari Sunda, Tari Sigeh Pengunten dari Organisasi Daerah Lampung, Mocopat dari Penghayat Kepercayaan Kota Surabaya, Tarian Empat Etnis dari Suku Bugis, Tari Pasambahan dari Suku Minang, dan Kasuari Dance dari Papua.

Selain pertunjukan seni dan budaya, juga dilaksanakan Doa Bersama Lintas Agama serta Deklarasi Persamaan Satu Negara Indonesia dari berbagai suku, ras dan agama dari para pemuda di Surabaya. Pada akhir acara diisi dengan ceramah kebangsaan yang disampaikan ulama Miftah Maulana Habiburrahman yang dikenal dengan sebutan Gus Miftah.

(Warto'i)