Jakarta, Aktual.co — Sistem Resi Gudang (SRG) dinilai mampu mengendalikan inflasi di beberapa wilayah Indonesia, dan diharapkan mampu menjamin ketersediaan stok kebutuhan pokok dan harga-harga bisa lebih stabil.
“Salah satu yang terus gencar dilakukan Kemendag adalah mempercepat implementasi SRG yang diyakini mampu mendukung pengendalian inflasi di daerah,” kata Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan, Sutriono Edi, dalam siaran pers yang diterima, Jumat (22).
Sutriono mengatakan hal tersebut seusai melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman Kerja Sama Pengembangan dan Percepatan Implementasi SRG dengan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Barat Rosmaya Hadi, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat Ferry Sofwan, dan Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero) Poernomo.
“Dengan terealisasinya SRG yang terintegrasi dari hulu hingga ke hilir, diharapkan stok komoditas bisa lebih terjamin dan harga- harga bisa menjadi lebih stabil sehingga pada akhirnya inflasi bisa lebih terkendali,” kata Sutriono.
Sutriono menjelaskan, pentingnya integrasi SRG dengan Sistem Logistik Nasional, PT Pos Indonesia dinilai memiliki peran dalam percepatan pelaksanaan SRG karena memiliki jaringan logistik luas.
“Jika SRG dan jaringan logistik ini sudah terintegrasi dengan baik, saya yakin kita mampu mendukung terwujudnya pengendalian inflasi di daerah,” ujar Sutriono.
Saat ini, menurut Sutriono, di Jawa Barat, permasalahan petani cukup banyak, seperti alih fungsi lahan pertanian, penguasaan stok bahan pangan oleh pedagang, dan panjangnya rantai distribusi, serta terkendalanya upaya perluasan akses petani terhadap pembiayaan.
“SRG menjawab permasalahan tersebut melalui peranannya sebagai instrumen yang penting dan efektif sebagai sarana tunda jual dan pembiayaan yang dapat memberdayakan petani serta mengefisiensikan rantai tata niaga komoditas,” ujar Sutriono.
Dengan SRG, petani memiliki alternatif pembiayaan untuk aktivitas pertaniannya dari resi yang diterimanya ketika menyimpan komoditas di gudang. Terutama pada saat panen umumnya harga sedang berada pada titik terendah. Bagi pedagang, ketersediaan stok dan pembiayaan dapat memberikan solusi permodalan yang lebih efisien.
Sedangkan bagi fungsi pengawasan pemerintah pusat dan dampak yang dirasakan oleh masyarakat, SRG menyediakan data jumlah stok komoditas di dalam gudang yang akan mempermudah pemerintah melakukan pemantauan data produksi daerah secara lebih akurat.
“Integrasi informasi antara satu gudang dengan gudang lainnya akan melahirkan sebuah sistem integrasi data mengenai stok komoditas dari berbagai daerah yang akan mendorong kerja sama antargudang di berbagai daerah dalam menutupi kekurangan stok atas komoditas tertentu,” kata Sutriono.
Bappebti bekerja sama dengan Pemerintah Daerah sejak tahun 2009 sampai 2013 telah membangun 98 gudang SRG di 78 kabupaten di 21 provinsi. Tahun 2014, Bappebti bersama pemerintah daerah kembali melakukan pembangunan 19 gudang di 19 kabupaten.
Sejak diluncurkannya resi gudang pada 2008, hingga saat ini sudah dilakukan penerbitan di 47 kabupaten-kota, meliputi Bener Meriah, Simalungan, Deli Serdang, Pasaman Barat, Tangerang, Lebak, Indramayu, Bogor, Sumedang, Ciamis, dan lainnya, Secara akumulatif sampai 24 November 2014, jumlah resi gudang yang telah diterbitkan sebanyak 1.759 resi dengan total volume komoditas sebanyak 70.968,05 ton yang terbagi 60.598,95 ton gabah, 5.295,47 ton beras, 4.628,15 ton jagung, 25,49 ton kopi, dan 420 ton rumput laut atau total senilai Rp358,28 miliar.
Artikel ini ditulis oleh:

















