Gedung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)/ANTARA
Gedung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)/ANTARA

Jakarta, Aktual.com – Peneliti dari Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2E-LIPI), Tuti Ermawati meminta pemerintah mempertimbangkan aspek keberlanjutan hidup Lembaga Keuangan Mikro swasta sebelum membentuk Holding Ultra Mikro yang menggabungkan BRI, Pegadaian dan PNM.

Menurut Tuti, pembentukan holding ini akan membuat persaingan antar lembaga keuangan mikro, baik BUMN maupun swasta akan semakin ketat.

“Yang perlu dipertimbangkan adalah bagaimana keberlanjutan hidup dari lembaga keuangan mikro yang lain, seperti koperasi dan sebagainya,” katanya kepada Aktual.com, Selasa (4/5).

Tuti mengatakan selama ini persaingan antara lembaga keuangan mikro BUMN dengan swasta terlihat dari suku bunga program Kredit Usaha Rakyat (KUR) BUMN yang lebih rendah dibanding swasta. Untuk bersaing di pangsa pasar itu, para pelaku swasta sudah kewalahan.

“Jadi persaingan itu udah lumayan ketat,” tuturnya.

Ia menambahkan, meskipun Holding Ultra Mikro ini bisa memperluas jangkauan pembiayaan mikro karena menggabungkan tiga BUMN yang ‘jago’ di sektor mikro, namun pemerintah perlu mencermati keberadaan lembaga pembiayaan mikro lainnya di Indonesia.

Sebab, sebagai regulator pemerintah seharusnya tidak melihat dari sisi permintaannya saja, tetapi juga harus melihat dari sisi penawaran.

“Dengan adanya holding, otomatis kan itu akan menekan suku bunga dan sebagainya. Ini sebenarnya PR [pekerjaan rumah] besar. Karena harusnya kan pemerintah melihat semua hal, baik dari sisi demand maupun supply, jadi harus lebih imbang melihatnya. Mungkin perlu semacam pemikiran bagaimana nanti biar mereka bisa beriringan,” tegasnya.

(A. Hilmi)