Tenaga kesehatan memperlihatkan vaksin covid-19 saat berlangsungnya acara vaksinasi booster di Kantor Bank DKI Kantor Layanan Juanda, Jakarta, Sabtu (5/3).

Jakarta, Aktual.com – Anggota Komisi IX DPR RI Saleh Partaonan Daulay dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Panitia Kerja (Panja) meminta penjelasan Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes Lucia Rizka Andalusia terkait adanya perbedaan variasi harga vaksin Covid-19.

“Nah ini benar-benar ada perbedaan signifikan jadi tolong diberikan penjelasan,” ungkap saleh dalam rapat panja di DPR dengan Kementerian Kesehatan dan Kementerian Keuangan di Gedung Nusantara 1, Jakarta, Kamis (31/3).

Hal ini diungkapkan setelah Kemenkes memaparkan harga-harga vaksin salah-satunya harga vaksin Astrazeneca tahap I sebesar Rp 78 ribu, sedangkan untuk Astra Zeneca Tahap II Rp 73 ribu.

Politisi Partai Amanat Nasional itu  juga menyinggung soal mahalnya harga vaksin Biofarma dibandingkan vaksin Pfizer sedangkan secara Efikasi vaksin Pfizer lebih bagus.

“Kenapa kita beli vaksinnya yang diadakannya oleh Bio Farma dengan harga Rp 132 ribu, logikanya kan lebih murah Pfizer. Sementara efikasinya menurut yang kita dapatkan dari BPOM lebih bagus Pfizer ini? Betul nggak sih ini? Harganya kan lebih murah, efikasinya bagus, tapi kita beli yang lebih mahal. Begitu juga dengan merek lain nih. Mohon dijelaskan,” tambah dia.

Sebelumnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) tersebut, Kemenkes memaparkan terkait pengadaan vaksin COVID-19. Antara lain produksi PT Bio Farma sebanyak 122,5 juta dosis harga satuan Rp 132.439. Kemudian pengadaan vaksin Astra Zeneca Tahap I sebanyak 20 juta dosis dengan harga Rp 78.331. Vaksin Pfizer sebanyak 34,63 juta dosis dengan harga Rp 97.875.

Untuk diketahui sebelumnya Komisi IX DPR RI sebelumnya membentuk Panja Vaksin untuk pengawasan tata kelola hingga ketersediaan vaksin Covid-19 yang saat ini digencarkan oleh pemerintah.

(Dede Eka Nurdiansyah)