Jakarta, Aktual.co — “ Aku pernah berkata, ada orang kaya raya, auto Impala, auto Mercedes, gedungnya tiga, empat, lima tingkat, tempat tidurnya kasurnya tujuh lapis mentul-mentul. Tiap-tiap hari makan empat, lima, enam, tujuh kali. Ya, seluruh rumahnya itu laksana ditabur dengan ratna mutu manikam, Kakinya tidak pernah menginjak ubin, yang diinjak selalu permadani yang tebal dan indah.

Tapi orang yang demikian itu, pengkhianat. Tapi orang yang demikian itu menjadi kaya oleh karena korupsi. Orang yang demikian itu di wajah-Nya Tuhan yang Maha Esa, adalah orang yang rendah. Di wajah Tuhan Yang Maha Esa dia adalah orang yang rendah!

Sebaliknya, kataku dalam pidato itu, ambil seorang penyapu jalan. Penyapu jalan di sana, di Jalan Thamrin atau jalan Sudirman atau jalan-jalan lain, nyapu jalan, Saudara-saudara. Pada waktu kita enak-enak tidur waktu malam, dia menyapu jalan, tangannya menjadi kotor oleh karena dia menyapu segala ciri-ciri dan kotor-kotor dari jalan itu, tetapi Saudara-saudara, dia mendapat nafkah dari kerjanya itu dengan jalan jang halal dan baik. Dia dengan uang yang sedikit yang dia dapat dari Kotapraja, Pak Gubernur Sumarno,

Saudara-saudara, ya mendapat gaji daripada Kotapraja uang jang sedikit, dia belikan beras, dan dia tanak itu beras, dan dia makan itu nasi dengan istri dan anak-anaknya, bukan di atas kursi yang mentul-mentul, bukan di atas permadani tebal, bukan dari piring yang terbuat daripada emas, tidak dengan sendok dan garpu, dia makan makanan yang amat sederhana sekali, dan dia mengucapkan syukur alhamdulillah ke hadirat Allah SWT: “Ya Allah ja Rabbi, terima kasih, bahwa Engkau telah memberiku cukup makan bagiku, bagi istriku, bagi anak-anakku. Ya Allah Ya Rabbi, aku terima kasih kepadaMu”.

Orang yang demikian ini, menyapu jalan, dia adalah orang mulia dihadapan Allah SWT. ”

Begitulah kutipan panjang dari sambutan Bung Karno, selaku Presiden RI, dalam Kongres Persatuan Pamong Desa Indonesia, di Jakarta pada tanggal 12 Mei 1964. Pesan proklamator yang tak pernah meninggalkan harta warisan bagi keluarga dan semua anak-anaknya itu, disampaikan setengah abad yang lalu.

Kini setelah 50 tahun berlalu, pesan bapak bangsa yang wafat dalam status tahanan politik Orde Baru atas perintah Jenderal Soeharto, ini relevan. Makin relevan lagi, jika kita bandingkan isi pesan Bung Karno itu dengan mural bergambar Presiden Soeharto di pantat truk yang bertuliskan pesan, “Piye Kabare?  Enak Jamanku Toh.” Mural kreatif yang kemudian diplesetkan oleh para netizen di dunia maya, terutama di Face Book dan Twitter, menjadi “Piye Kabare?  Enak Jamanku Toh. Oro Ono KPK.”

Para netizen dari generasi baru Indonesia yang memasang dan men-share foto mural plesetan itu, umumnya menilai korupsi justru menyebar luas sejak Soeharto berkuasa. Bagi mereka korupsi itu merupakan konsekwensi dari pendekatan program yang konsumeristis dan mengutamakan proyek pembangunan yang materialistis.  Itulah pembangunan yang disponsori oleh IMF – Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia demi kepentingan keuntungan bisnis kaum kapitalis pemilik multi national corporation – MNC.

Karena itu ironis, jika ada yang meyakini jaman Soeharto sebagai jaman lebih enak, ternyata enak yang dimaksudkan malah enak bisa leluasa ber-KKN alias korupsi, kolusi, dan nepotisme. Sebab semasa Soeharto, tidak ada lembaga anti rasuah seperti KPK, Komisi Pembrantasan Korupsi, yang diharapkan semakin bersikap tegas menindak para koruptor dan nepotis yang berkolusi mencuri uang rakyat.

Yang menarik, adalah menilik isi pesan Soekarno yang menyebut:  “Dia dengan uang yang sedikit yang dia dapat dari Kotapraja, Pak Gubernur Sumarno.“  Yang dimaksud Bung Karno adalah Brigjen dr H Soemarno Sosroatmodjo yang menjabat Gubernur DKI Jakarta, sejak 4 Februari 1960 hingga 23 Maret 1966. Yaitu semasa berlangsung berbagai kegiatan internasional seperti Asian Games 1962 dan setahun kemudian Ganefo (Games of the New Emerging Forces) yang bertujuan untuk menyaingi Olimpiade. 

Menarik karena nama Soemarno yang dokter dan jenderal ini sering dikelirukan dengan nama MR Sumarno, Gubernur BI – Bank Indonesia .  Betapa tidak. Karena Sumarno yang sarjana hu kum ini mempunyai anak-anak lulusan perguruan tinggi terkemuka di Amerika Serikat sana, yang semasa Orde Baru tampil sebagai profesional menonjol. Para anak Sumarno mantan Menteri Urusan Bank Sentral (MUBS) ini dikenal karib dengan sejumlah pebisnis yang disebut-sebut beraroma nepotisme dan kolusi. Antara lain, beberapa kelompok perusahaan yang dimiliki oleh anak Presiden Soeharto.

Lebih menarik lagi, ada pula anak Sumarno ini yang setelah Orde Baru tumbang, justru pada era reformasi tampil menjadi menteri penentu kebijakan strategis dalam ranah ekonomi, dan keuangan, setelah lama berkecimpung mengoperasikan bisnis para konglomerat Orde Baru maupun kepentingan multi national corporation. Sehingga, terakhir ini mereka dituding pula sebagai agen neolib. 

Lalu, so what? Gitu loh.

Artikel ini ditulis oleh: