Jakarta, Aktual.com – Gejolak ekonomi global kembali menjadi sorotan di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Meski terjadi jauh dari Indonesia, dampak perang tersebut dinilai tetap akan terasa, terutama terhadap stabilitas ekonomi dunia dan rantai pasok global.

Situasi ini menjadi salah satu bahasan utama dalam Soemitro Economic Forum II yang digelar Indonesia Roundtable of Young Economists (IN.RY) di Kraton Majapahit, Jakarta, Kamis (12/3). Forum tersebut diselenggarakan dalam rangka refleksi 500 hari pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dengan tema “Kembalinya Ekonomi yang Berpihak pada Rakyat.”

Kegiatan ini juga menjadi momentum memperingati 25 tahun wafatnya Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo, ekonom senior yang dikenal sebagai salah satu pemikir penting dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Sejumlah ekonom, akademisi, dan pelaku usaha hadir untuk membahas relevansi pemikiran Soemitro terhadap tantangan ekonomi global saat ini.

Direktur Utama Askrindo, M. Fankar Umran, menyampaikan bahwa gagasan Soemitro mengenai pentingnya menjadikan Indonesia sebagai bangsa produsen masih sangat relevan hingga saat ini. Ia menilai Indonesia memiliki peluang besar di tengah ketidakpastian global yang semakin meningkat.

Menurutnya, Indonesia harus mampu mendesain, mengolah, mengelola, dan membiayai kepentingannya sendiri. Posisi geografis Indonesia yang strategis juga dinilai dapat menjadikannya jangkar stabilitas di kawasan Asia dan Indo-Pasifik.

Fankar turut menyoroti konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang berpotensi memicu gangguan rantai pasok global. “Dalam situasi seperti ini, Indonesia memiliki peluang untuk membangun manufaktur, logistik, serta menarik investasi baru yang berbasis foreign direct investment, bukan sekadar investasi portofolio,” kata Fankar.

Ia menilai momentum tersebut seharusnya dimanfaatkan untuk memperkuat reformasi domestik, termasuk pengembangan industri berbasis sumber daya alam, pembangunan ekosistem kendaraan listrik, serta penguatan sektor digital dan pertahanan.

Fankar juga menegaskan bahwa pemikiran Soemitro tentang kemandirian ekonomi dan industrialisasi nasional tetap relevan sebagai pijakan dalam menghadapi dinamika geopolitik dan ekonomi global saat ini.

Artikel ini ditulis oleh:

Achmat
Eka Permadhi