Jakarta, Aktual.com – Sejumlah ekonom dan akademisi menilai gejolak geopolitik global, termasuk konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat industri nasional serta ketahanan ekonomi domestik.

Hal tersebut mengemuka dalam Soemitro Economic Forum II yang digelar Indonesia Roundtable of Young Economists (IN.RY) di Kraton Majapahit, Jakarta, Kamis (12/3).

Prof. Ganjar Razuni dari Universitas Nasional menilai pemikiran Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo memandang ekonomi Indonesia sebagai bagian dari sistem ekonomi dunia yang lebih luas. Namun, tujuan akhirnya tetap mengarah pada keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sebagaimana dicita-citakan oleh Bung Karno.

Menurut Ganjar, pembangunan nasional seharusnya berjalan selaras antara politik, ekonomi, dan ideologi yang berlandaskan Pancasila.

“Mengapa bangsa Iran begitu kuat spiritnya melakukan pertahanan terhadap invasi Amerika? Tidak lain karena satu keyakinan ideologi yang kuat,” ujar Ganjar dalam forum tersebut.

Ia juga menilai Indonesia perlu melakukan perubahan struktural sesuai amanat Pasal 33 UUD 1945 agar mampu menghadapi persaingan global. Ganjar menilai diplomasi ekonomi yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto membuka sejumlah peluang bagi Indonesia.

“Produk-produk petani kita bisa masuk ke Amerika dengan tarif 0 persen,” katanya.

Dari sisi geopolitik, pakar fisika kuantum sekaligus Dekan Fakultas Teknik dan Sains Terapan ISTN, Dr. Kun Wardana, menilai dunia saat ini tengah mengalami perubahan besar menuju tatanan global baru.

Menurutnya, terdapat tiga faktor utama yang memengaruhi perubahan tersebut, yakni de-dolarisasi, persaingan energi, dan perang teknologi.

“Yang pertama de-dolarisasi, kedua perang energi, ketiga perang teknologi,” ujar Kun.

Ia juga menyoroti pentingnya kedaulatan data di era digital. Menurutnya, data memiliki nilai ekonomi yang sangat besar.

“Data itu adalah emas atau minyak abad ke-21,” katanya.

Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal Indonesia Roundtable of Young Economists sekaligus pengusaha muda nasional, Aldila Septiadi, menilai krisis global justru dapat membuka peluang bagi dunia usaha.

Sebagai pelaku industri fesyen, ia mengaku melihat pertumbuhan pabrik baru dalam beberapa bulan terakhir.

“Ada sekitar 27 pabrik baru hanya dalam waktu enam sampai tujuh bulan,” kata Aldila.

Ia juga menyoroti dampak ekonomi dari program Makan Bergizi Gratis yang dinilai dapat mendorong pemerataan ekonomi serta membuka lapangan kerja di berbagai daerah.

“Kita proyeksikan ada sekitar 2.000 hingga 2.200 peternakan ayam,” ujarnya.

Bendahara III Indonesia Roundtable of Young Economists, Yusadha Adimukti Panigoro, menekankan pentingnya ketahanan rantai pasok di tengah ketidakpastian global.

Menurutnya, perusahaan di Indonesia perlu membangun sistem rantai pasok yang lebih tangguh terhadap guncangan eksternal dengan memperluas sumber pemasok, meningkatkan penggunaan bahan baku lokal, serta mengembangkan substitusi impor.

“Perusahaan di Indonesia harus membangun supply chain yang lebih tahan terhadap shock global,” kata Yusadha.

Ia menambahkan, langkah tersebut dapat diperkuat melalui investasi luar negeri untuk mengamankan pasokan komoditas penting.

Selain itu, peningkatan produktivitas dan pemanfaatan teknologi seperti digitalisasi, kecerdasan buatan, serta otomasi logistik dinilai menjadi kebutuhan mendesak. Ia juga menyoroti pentingnya penguatan UMKM melalui integrasi dengan rantai pasok industri besar.

Pandangan lain disampaikan Nehenia Lawalata, kader sekaligus pembantu urusan politik dan ekonomi Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo. Ia menjelaskan bahwa konsep Soemitronomics tidak hanya berbicara mengenai ekonomi semata.

“Soemitronomics lahir dari pemikiran yang original tentang Indonesia,” kata Nehenia.

Menurutnya, gagasan tersebut berakar pada ideologi yang menempatkan rakyat sebagai basis utama pembangunan ekonomi. Ia menilai sejumlah kebijakan pemerintah saat ini, seperti pembentukan Danantara, Koperasi Desa Merah Putih, dan program Makan Bergizi Gratis, dapat dilihat sebagai bagian dari implementasi pemikiran Soemitro.

Sementara itu, General Convener Soemitro Economic Forum 2026, Leonardo A. Putong, menegaskan bahwa pemikiran Soemitro tetap relevan bagi pembangunan Indonesia.

Menurutnya, ekonomi tidak sekadar soal angka pertumbuhan, tetapi juga berkaitan langsung dengan kesejahteraan masyarakat.

“Ekonomi bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan tentang manusia, rakyat, dan keluarga yang berhak atas kehidupan yang bermartabat,” kata Leonardo.

Artikel ini ditulis oleh:

Achmat
Eka Permadhi