IST

Jakarta, Aktual.com – Koordinator Gerakan Sepak Bola untuk Rakyat (GSR), Ferry Bastian, menanggapi permasalahan terkait kinerja wasit Liga 1 yang dinilai oleh beberapa klub tidak memuaskan atas sejumlah keputusannya.

Pihak penyelenggara PT Liga Indonesia Baru (LIB) pun telah menerima pengaduan dari klub Liga 1 yang protes terhadap ketidakadilan pengadil di lapangan. Salah satunya adalah tim Persebaya Surabaya yang menyesalkan kepemimpinan wasit Ginanjar Rahmat dalam pertandingan kontra Persik Kediri di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Selasa (13/12/2022).

Melihat kejadian ini, Ferry Bastian menyatakan buruknya kinerja wasit tercermin dari buruknya pengelolaan sepak bola oleh PSSI. Maka, jika mau ada pembenahan total sepak bola Indonesia, selain reformasi wasit secara menyeluruh, harus juga dilakukan revolusi PSSI.

“Akar persoalannya itu di PSSI, maka gak heran kalau itu berdampak luas pada kualitas sepak bola Indonesia, termasuk kualitas wasit. Maka pilihannya revolusi PSSI, agar kita bisa kembali membangun kepercayaan publik dan kepercayaan klub-klub kembali,” kata Ferry Bastian, Minggu (18/12).

Ferry juga menyayangkan kualitas wasit yang dianggap masih jauh dari standar tetapi masih dipaksakan turun ke lapangan.

“Ini sebuah kesalahan yang disengaja, karena tidak mungkin tanpa perencanaan, kan ada SOP nya. Aneh kalau sampai tidak tau pengurus PSSI, ” ujar Ferry

“Kita kadang suka gemes, kok sepak bola Indonesia gak ada perubahan sama sekali. Mau sampai kapan? Stadion bermasalah, wasit juga selalu bermasalah? Sementara biaya mahal, tidak punya kemampuan, menggunakan teknologi yang lain, juga sumber daya manusia wasit kita masih dalam tataran yang sangat rendah,” jelasnya.

Sementara Itu, Direktur SSB Persatuan Sepak Bola Indramayu (Persindra) mendorong agar segera dilakukan perbaikan total sepak bola Indonesia di semua sektor, termasuk wasit.

“Soal Wasit. Saya mendorong agar selalu ada perbaikan di segala sektor sepakbola, tak terkecuali wasit dan perangkatnya,” kata Direktur SSB Pesindrat, ED Riyandi saat dihubungi, Minggu (18/12).

Riyandi pun mendukung penuh desakan publik agar PSSI revolusi total demi sepak bola Indonesia lebih baik. Pasalnya, keberadaan wasit yang tidak profesional di Liga Indonesia tidak lepas dari peran oknum pengurus PSSI.

“Tapi demi revolusi sepak bola Indonesia, maka keberadaan mafia wasit juga harus diberangus, termasuk melakukan revolusi total terhadap PSSI,” sambungnya

Menurut Riyandi, wasit menjadi penentu sehat dan tidaknya sepak bola Indonesia, karena profesionalnya wasit berpengaruh besar pada pemain pelatih dan juga kepada offisial sebuah klub.

“Keberadaan wasit dalam sepak bola sangat vital. Bisa dikatakan dia adalah wakil Tuhan yg ada di lapangan. Sebab dia diberi kuasa penuh untuk mengatur pertandingan di lapangan. Kekuasaan wasit sangat besar dan memiliki hak penuh selama pertandingan kepada seluruh pemain dan pelatih dan offisial sebuah tim,” ucapnya.

Bahkan, kata Riyandi, sepak bola Indonesia sering diwarnai dengan kekerasan fisik kepada wasit karena dianggap tidak profesional dalam memimpin pertandingan.

“Kalau kejadian pemain memukul wasit sudah menjadi rahasia umum, karena dinilai tidak adil dan berpihak pada satu tim. Liga 3 dan Liga 2 yang sering terjadi aksi kekerasan,” akuinya.

Dijelaskan Riyandi, wasit yang memiliki kuasa penuh dalam satu pertandingan dilindungi oleh satu federasi sepak bola, baik PSSI atau FIFA. Namun, jika kualitas wasit di Liga Indonesia dipertanyakan oleh publik, maka ada tanggung jawab PSSI juga di dalamnya.

“Kekuasanya itu juga dilindungi penuh oleh PSSI sebagai lembaga tertinggi di negara ini yg mengurusi sepak bola juga FIFA dalam konteks dunia. Artinya ada keterkaitan atau korelasi yang besar antara kualitas bagus atau tidaknya wasit dengan PSSI,” ucapnya.

“Sebab keduanya tidak bisa dilepaskan dan saling terkait. Sederhananya, bisa dikatakan jika PSSI buruk maka wasit yg dibawah naungannya juga belum tentu bagus,” tegasnya.

(Tino Oktaviano)