Ilustrasi- Imam Syafi'i

Jakarta, Aktual.com – Keberadaan seorang guru yang terampil dalam membimbing, mengarahkan, dan mengantarkan muridnya mencapai tujuan dari proses pengalihan pengetahuan menjadi kualitas hidup yang berguna bagi diri murid itu sendiri sebelum kemudian melebar kepada seluruh penjuru semesta.

Seperti Imam Malik, ia merupakan sosok yang amat selektif dalam memilih dari siapa ia akan menerima asupan pengetahuan. Ia hanya mau menerima dari yang diyakininya memiliki kapasitas untuk itu saja.

Imam Malik pernah berkata, “Suatu pengetahuan tidak diterimakan dari empat karakter manusia dan sebaliknya, dapat didulang dari selain mereka. Sebuah ilmu tidak diperik dari orang bodoh, tidak juga dari seorang yang jelas menghamba pada hawa nafsunya,”

Begitu juga Imam Syafi’I, ia juga mencari guru-guru yang benar-benar utama dan sangat mengetahui ilmu yang ia pahami. Ia tidak sembarangan dalam memilih guru. Bahkan, guru yang telah dipilihnya pun tidak berarti lolos dari pandangan tajam dan kritis nalarnya yang memukau.

Imam Syafi’I dikenal seorang penggali kebenaran yang memiliki jiwa petualang, maka banyak tempat yang dikunjunginya demi memuntaskan hasrat menimba ilmu pengetahuan.

Abu Walid al-Makki menceritakan pengamalannya saat melhat Imam Syafi’I, “Dalam perbincangan yang berlangsung antara diriku dan seorang sahabatku, kami mengamati bahwa Syafi’I menelaah kitab-kitab Ibnu Juraij dari empat orang, yaitu Muslim bin Khalid az-Zinji dan Sa’id bin Salim yang keduanya adalah ahli fiqih. Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Abi Daud dan Abdullah bin al-Harits al-Makhzumi yang merupakan ahli hadits,”

Selain itu, Imam Syafi’I ketika mengetahui ada seorang pakar di suatu daerah, ia akan menghampirinya dan belajar dengan giat sampai memahami segala apa yang diutarakan gurunya tersebut. Seperti ketika dirinya mengetahui Imam Malik di Madinah, dirinya langsung berkelana ke sana. Kemudian, ia juga mengetahui terdapat pakar fiqih dari Irak yaitu Imam Abu Hanifah, ia langsung murid dari Imam Abu Hanifah, karena pada saat itu imam Abu Hanifah telah wafat lebih dahulu.

Berikut ini sejumlah nama guru Imam Syafi’I, yaitu:

Saat berada di Mekkah: Sufyan bin Uyainah, Muslim bin Khalid bin Muslim bin Sa’id az-Zinji, Daud bin Abdirrahman al-Aththar, Abdul Majid bin Abdil Aziz al-Azadi, Sa’id bin Salim al-Qaddah dan Isma’il bin Qashthanthin.

Saat beliau berada di Madinah: Malik bin Anas, Abdul Aziz ad-Darawardy al-Khurasani, Abdullah bin Nafi’, Ibrahim bin Muhammad al-Aslami, Ibrahim bin Sa’ad bin Ibrahim bun Abdirrahman bin Auf az-Zuhri, dan Muhammad bin Ismail bin Muslim.

Saat berada di Yaman: Mutharrif bin Mazin al-Kanani, Hisyam bin Yusuf ash-Shan’ani, Amru bin Abi Salamah, Abu Zakariyya al-Bashri dan Yahya bin al-Hasan.

Saat berada di Irak: Waki’ bin al-Jarrah bin Malih ar-Ruasiy al-Kufi, Abu Usamah al-Kufi, Muhammad bin al-Hasan, Ismail bin ‘Uliyyah al-Bashri, Abdul Wahhab bin Abdil Majid ats-Tsaqafi dan Ayyub bin Suwaid.

Itulah guru-guru yang mengajarkan imam Syafi’I tentang berbagai macam ilmu sehingga beliau bisa menjadi seperti sekarang.

Waallahu a’lam

(Rizky Zulkarnain)

(Arie Saputra)