Tangkapan Layar Guru Besar IPB University, Prof. Hermanto Siregar dalam webinar Aktual Forum yang bertajuk ‘Jadi Petani Milenial, Kenapa Tidak?!’ pada Selasa, (31/08).
Tangkapan Layar Guru Besar IPB University, Prof. Hermanto Siregar dalam webinar Aktual Forum yang bertajuk ‘Jadi Petani Milenial, Kenapa Tidak?!’ pada Selasa, (31/08).

Jakarta, aktual.com – Isu pergantian Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo kepada politisi partai Perindo, Tuan Guru Bajang (TGB), Zainul Majdi santer beredar. Hal ini menyusul kabar perombakan kabinet atau reshuffle yang akan dilakukan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa waktu lalu.

Guru Besar IPB University, Prof Hermanto Siregar mengatakan sosok Menteri Pertanian idealnya memiliki pengalaman yang tinggi di bidang pertanian. Selain itu, ia juga menilai Menteri Pertanian sebaiknya yang memiliki jejaring yang luas dengan praktisi sektor lain yang terkait erat dengan sektor pertanian.

“Idealnya Mentan adalah seorang yang memiliki pengetahuan dan/atau berpengalaman yang tinggi dalam bidang pertanian. Ia juga sebaiknya memiliki jejaring yang luas dengan pengampu/praktisi sektor-sektor lain yang terkait erat dengan pertanian, antara lain perbankan/keuangan, industri, perdagangan dan lain-lain,” katanya kepada wartawan, Jakarta, Selasa (27/12).

Kendati demikian, Hermanto menuturkan bahwa reshuffle merupakan hak prerogatif presiden. Namun, jika hal tersebut terjadi, ia berharap presiden dapat memilih menteri yang memiliki pengalaman di bidang pertanian dan jejaring yang luas, seperti sosok Wakil Menteri Pertanian saat ini, Harvick Hasnul Qolbi.

Hal tersebut mengingat masa kepemimpinan Presiden Jokowi yang hanya tinggal dua tahun lagi. Sehingga tak waktu bagi menteri baru belajar seluk beluk pertanian yang kompleks.

“Reshuffle adalah hak prerogatif Presiden. Bila memang reshuffle akan dilakukan, sebaiknya Presiden memilih yang sesuai dengan kriteria yang saya kemukakan di atas. Jangan terlalu besar memberi bobot kepada aspek politis. Mengingat waktu pengabdian tinggal kurang dari dua tahun, tidak ada waktu bagi menteri baru yang masih harus belajar tentang seluk beluk pertanian yang sangat kompleks,” tuturnya.

Ia pun mengungkapkan beberapa tantangan di sektor pertanian ke depan. Pertama, memastikan pertanian dan pangan kita tahan menghadapi perubahan iklim. Kedua, mensejahterakan petani sebab bila petani miskin, di masa mendatang generasi muda tidak mau menjadi petani. Ketiga, menjaga ketahanan pangan menghadapi kemungkinan krisis pangan global.

Sebelumnya, isu reshuffle kabinet terus berembus kencang setelah Presiden Joko Widodo atau Jokowi membuka kemungkinan melakukan kebijakan tersebut. Topik ini kembali mencuat setelah Jokowi menjawab pertanyaan soal reshuffle kabinet pada Jumat 23 Desember 2022.

“Mungkin. Ya nanti,” kata Jokowi saat itu di Bendungan Sukamahi, Bogor.

Setelah pernyataan ini disampaikan Jokowi, partai politik baik pendukung maupun yang di luar pemerintahan silih berganti melemparkan pandangan mereka. PDIP yang merupakan partai tempat Jokowi bernaung, menyoroti khusus 2 kursi menteri yang diisi kader NasDem, yaitu Menteri Pertanian dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Mentan dievaluasi, Menhut dievaluasi, Menteri Kehutanan ya. Harus dievaluasi. Semua menteri juga harus dievaluasi. Supaya apa? Supaya ada satu darah baru yang segar yang bisa mendukung penuh kebijakan Pak Jokowi untuk menuntaskan janji-janji kampanyenya,” ujar Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat.

(Rizky Zulkarnain)