Saudaraku, mengapa Indonesia tanpa spirit Papua ibarat tungku tanpa apinya? Jawabannya terpancar dari buku “Limabelas Tahun Digul, Kamp Konsentrasi di Nieuw Guinea: Tempat Persemaian Kemerdekaan Indonesia”, karya I.F.M. Chalid Salim.

Bumi Papua adalah “tanah spiritual” revolusi kemerdekaan Indonesia. Memasuki 1920-an, Pemerintahan Belanda mulai panik dengan ekspansi dan eskalasi radikalisme. Setelah pemberontakan rakyat dengan stimulasi ideologi kiri pada 1926/1927, Belanda membuang “para perusuh” ke tempat terisolir. Pada 1926, dibangunlah “kamp konsetrasi” di (Boven) Digul, Papua.

Dataran tinggi Digul saat itu kawasan hutan tropis perawan, dengan jarak tempuh sekitar 500 km dari muara Sungai Digul di Laut Arafura. Dalam kesenyapan rimba raya, kehidupan tak bisa istirah dengan tenang. Ancaman nyamuk anopheles, buaya, dan tradisi pengayauan suku tertentu (saat itu), mengintai maut setiap saat. Cekikan kesepian memicu dimentia, gangguan ingatan, keputusaan, yang mematikan daya hidup.

Kesanalah “perusuh” politik dari berbagai pulau di buang. Awalnya aktivis gerakan kiri, lalu pentolan nasionalis (religius dan netral agama), termasuk Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir. Di sanalah ujian sesungguhnya perjuangan. Bagaimana idealisme dan impian kemerdekaan harus dipertahankan di tengah ancaman penderitaan, kesepian, dan kematian.

Tak heran, saat batas wilayah negara Indonesia merdeka dibicarakan di BPUPK, arus besar suara, dengan semangat emansipatoris, menghendaki penyertaan Papua. Mohammad Yamin mengatakan: “Di seluruh pergerakan kita di tanah Indonesia, tanah Papua-lah yang memberi bunyi internasional. Digul adalah sebagai puncak pengurbanan daripada penganjuran-penganjuran kita, sehingga melepaskan tanah Digul keluar daerah Indonesia melanggar perasaan keadilan, tanah Digul adalah tempat pengurbanan pergerakan kita menuju kemerdekaan. Janganlah mereka yang telah berjuang untuk mendapat kemerdekaan itu, pada waktu gembira karena kita mendirikan negara merdeka dikucilkan.”

Demikianlah, kemerdekaan Indonesia baru bisa mencapai visi emansipasinya, manakala Papua sebagau tanah spiritual revolusi Indonesia senantiasa kita ingat dan kita muliakan marwahnya.

Belajar Merunduk, Yudi Latif

(As'ad Syamsul Abidin)